
Lomba lukis Peksimida diikuti puluhan mahasiswa dari 28 perguruan tinggi di Jateng. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Pati– Ketika Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan gambar hanya dalam hitungan detik, sebuah pemandangan berbeda justru diperlihatkan di arena Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2026.
Puluhan seniman mahasiswa memilih tetap mengandalkan kuas, cat dan imajinasi mereka. Yakni untuk menciptakan karya seni yang lahir dari tangan sendiri.
Di antara para peserta itu, perhatian tertuju kepada Habibah Mailani Zahroh, delegasi Universitas Safin Pati dalam lomba seni lukis Pekan Seni Mahasiswa Daerah di Unnes Semarang pada Rabu (18/7/2026).

Habibah ditunjuk langsung oleh Wakil Rektor 1 Universitas Safin Pati, untuk menunjukkan talenta melukis di atas kain kanvas. Habibah merupakan mahasiswa aktif dari Prodi Administrasi Niaga Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Safin Pati.
“Keikutsertaan mahasiswa kami (Habibah) dalam Peksimida ini, diharapkan bisa mengenalkan nama dan keberadaan Universitas Safin Pati kepada masyarakat di Jawa Tengah, ” ujar Septadi Hanif Pambayu M.Pd, selaku dosen pembimbing USP.
Di atas sebuah kanvas berukuran 120 x 100 sentimeter, perlahan dipenuhi guratan cat warna warni yang diayunkan tangan mahasiswi yang juga seniman lukis dari Universitas Safin Pati.
Karya itu tidak dibuat oleh Habibah dengan bantuan komputer ataupun aplikasi AI. Seluruh prosesnya dikerjakan secara manual, mulai dari membuat sketsa hingga menyapukan warna di atas kanvas.
Pilihan tema yang dilukis tersebut dilakukan sebagai bentuk keyakinan Habibah, bahwa seni lukis tetap harus lahir dari imajinasi manusia.
Menurut Habibah, keberadaan AI memang diakui telah membantu banyak pekerjaan, termasuk dunia seni. Namun, teknologi hanya pantas dijadikan sebagai referensi, bukan sumber utama dalam berkarya.
“Kalau menurut pandangan saya, kalau benar-benar seniman itu harus murni dari pikirannya, dari imajinasinya sendiri. Mungkin beberapa seniman perlu referensi, tetapi tidak semuanya 100 persen atau 90 persen dari AI,” terang Habibah.
Habibah menegaskan, teknologi AI memang bisa membantu untuk menciptakan sebuah karya lukisan. Namun jika seseorang itu benar-benar seniman lukis sejati, maka ia harus fokus kepada imajinasinya sendiri
Pernyataan Habibah itu menjadi gambaran bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, masih terdapat generasi muda yang percaya bahwa kreativitas manusia memiliki nilai yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin.
Tema besar lomba yang diangkat dalam Peksimida adalah “Keunikan Negeriku, Kemajuan Bangsaku, Kebesaran Negaraku.”
Tema tersebut kemudian diterjemahkan Habibah melalui lukisan yang sarat makna. Menariknya, kemampuan melukis Habibah tidak diperoleh dari pendidikan formal seni rupa.
Mahasiswa Prodi Administrasi Niaga di Universitas Safin Pati tersebut, justru mengembangkan bakatnya secara otodidak.
Kecintaannya terhadap dunia gambar telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar, meski baru benar-benar menekuni hobi melukis ketika memasuki jenjang SMP.
Keikutsertaannya dalam lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah di Unnes Semarang, juga mendapat dukungan dari kampusnya yang berada di bawah Yayasan Safin Bina Bangsa Pati.
Agenda Peksimida kali ini diikuti sebanyak 28 mahasiswa dari 28 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Tengah. Cabang lomba seni lukis dalam Peksimida Jawa Tengah 2026 digelar di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
AI Dilarang Digunakan Lomba
Ketua Pelaksana Lomba Lukis Peksimida 2026, Adi Kuntoro mengatakan, seluruh peserta telah memenuhi persyaratan sebagai mahasiswa aktif dan mewakili kampus masing-masing.
“Pesertanya ada 28 dari kampus negeri maupun swasta, baik universitas maupun politeknik,” ujar Adi Kuntoro.
Pelaksanaan perlombaan dilakukan selama satu hari penuh, dengan durasi melukis selama delapan jam. Setelah seluruh karya dinyatakan selesai, lukisan dipamerkan terlebih dahulu sebelum memasuki proses penjurian untuk menentukan karya terbaik.
Menurut Adi, mekanisme tersebut diterapkan agar setiap karya dapat dinilai secara objektif. Yakni berdasarkan kualitas artistik, gagasan, teknik, dan penyampaian pesan yang dituangkan peserta di atas kanvas.
Penggunaan Artificial Intelligence dalam proses penciptaan karya, dipastikan tidak diperbolehkan selama kompetisi berlangsung.
Seluruh peserta diwajibkan menghasilkan karya berdasarkan kemampuan, kreativitas, dan imajinasi pribadi.
“Di lomba lukis ini memang tidak diperkenankan menggunakan AI. Ini pure agar mahasiswa berkreasi dan berimajinasi sesuai pikiran mereka sendiri,” tutur Adi.
Ia mengakui teknologi AI saat ini mulai dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, khususnya untuk membantu mahasiswa memperoleh referensi visual maupun ide awal. Namun, aturan berbeda diberlakukan dalam kompetisi seni.
“Biasanya mahasiswa seni rupa dibantu AI untuk mencari referensi. Tetapi untuk lomba ini dilarang,” tegasnya.
Baca Juga: Piala Soeratin Jateng 2026 Pecah Rekor! 206 Tim Ambil Bagian, Safin Pati Turunkan 5 Tim
Perkembangan kecerdasan buatan dinilai membawa manfaat dalam mempercepat proses produksi maupun eksplorasi ide. Meski demikian, teknologi tersebut diyakini tidak akan mampu menggantikan peran seniman dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai artistik dan pengalaman emosional.
“Kalau bicara dampak AI tentu ada positifnya. AI mempercepat produksi dan proses kreatif. Tetapi AI tidak menggantikan manusia dalam melukis,” tukas Adi.
Adi menyebut bahwa ancaman terbesar Seniman yang tergantung terhadap AI bukan terletak pada kemampuan menggambar. Melainkan pada menurunnya sensitivitas seorang seniman dalam merasakan proses kreatif.
“Kalau yang hilang mungkin sensitivitas. Ketika terbiasa menggunakan AI untuk generate gambar, nanti rasa itu yang akan berkurang,” ungkapnya.
Ia menilai proses pencarian gagasan, pergulatan batin, hingga pengalaman personal yang diwujudkan melalui sapuan kuas merupakan unsur penting yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Melalui Peksimida Jawa Tengah 2026, seni lukis manual kembali ditegaskan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kreativitas yang lahir dari pengalaman, imajinasi, dan kepekaan pribadi.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, kompetisi tersebut juga menjadi ajang pembuktian bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai pendukung, tetapi jiwa sebuah karya seni tetap ditentukan oleh manusia.(pra)






