
Semua SPPG di Jateng wajib sajikan telur ayam lokal. (doc/kanalmuria)
Kanalmuria.com, Semarang- Keberadaan semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Tengah, diwajibkan menyajikan telur dan daging ayam dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan itu terungkap usai terjadi kesepakatan yang tertuang dalam “Komitmen Bersama Penyerapan Telur dan Daging Ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis”.
Kesepakatan itu dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Badan Gizi Nasional (BGN), asosiasi peternak dan koperasi peternak. Nota kesepakatan ditandatangani dalam rapat koordinasi lanjutan, di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang belum lama ini.

Sejumlah kesepakatan yang mengemuka dalam pertemuan itu, menghasilkan tiga poin utama. Pertama yakni menu MBG di Jawa Tengah wajib menghidangkan telur dan daging ayam. Penggunaanya masing-masing dua kali dalam satu minggu.
Untuk poin kedua, pihak asosiasi dan koperasi peternak ayam petelur maupun pedaging siap menyediakan pasokan telur dan daging ayam. Produknya sesuai standar kualitas yang telah disepakati dan siap mengirimkan langsung ke lokasi dapur mitra SPPG.
Sedangkan poin ketiga, pihak SPPG membeli telur dan daging ayam secara langsung kepada asosiasi atau koperasi peternak rakyat Jawa Tengah.

Untuk terkait harga pembelian, disepakati bahwa harga telur Rp26 ribu per kilogram. Kemudian daging ayam karkas Rp35 ribu per kilogram atau setara Rp20 ribu per kilogram berat hidup.
“Itu sudah ada kesepakatan, maka SPPG yang ada di Jawa Tengah harus menaati ini,” ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, di sela rapat kelanjutan MBG.
Menurut Taj Yasin yang juga Ketua Satgas MBG Jateng, skema itu merupakan bagian dari penataan program MBG di Jawa Tengah. Tentunya agar berjalan lebih terarah, terutama terkait menu dan rantai pasok bahan pangan.

Taj Yasin menambahkan, pemerintah memastikan kebutuhan MBG terpenuhi. Selain itu, juga menjaga agar manfaat ekonomi program tersebut dirasakan oleh peternak Jawa Tengah.
“SPPG yang ada di Jawa Tengah harus membeli pasokan makanan itu dari Jawa Tengah, baik yang dikelola koperasi maupun asosiasi,” katanya.
Taj Yasin menegaskan, pengaturan harga menjadi bagian penting agar tidak terjadi disparitas harga di lapangan. Pemerintah siap memastikan transaksi berjalan sesuai harga acuan yang telah ditetapkan.
“Bukan hanya yang disetorkan ke SPPG, tetapi kami juga melindungi harga telur maupun ayam yang ada di Jawa Tengah. Salah satunya, SPPG ini harus membeli dari asosiasi ataupun koperasi yang ada di Jawa Tengah,” jelasnya.
Gus Yasin mengungkapkan, hasil komitmen tersebut akan disampaikan kepada Satgas percepatan MBG di kabupaten/kota, serta seluruh SPPG di Jawa Tengah. Langkah pengawasan juga akan dilakukan untuk memastikan kesepakatan diterapkan.
Penyeragaman Menu MBG
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN, Tengku Syahdana menambahkan, kesepakatan ini menjadi momentum untuk menyeragamkan pelaksanaan menu MBG di seluruh SPPG.
“Dengan adanya komitmen bersama ini, kita sampaikan kepada seluruh SPPG dan yayasan mitra, bahwa minimal dua kali menu per minggu menggunakan telur dan daging ayam,” tuturnya.
Menurut Tengku, langkah tersebut juga menjadi bentuk intervensi membantu menjaga stabilitas harga. Terlebih, kondisi pasar telur dan ayam saat ini masih menghadapi tekanan, akibat produksi yang melimpah.
“Harapannya, dengan adanya intervensi ini, secara psikologis di masyarakat harga telur dan daging ayam bisa terkendali lagi,” imbuhnya.
Pihak BGN juga akan melakukan penertiban apabila terdapat SPPG yang tidak menjalankan ketentuan, termasuk jika ditemukan pembelian di bawah harga acuan pemerintah.
“Kita terima semua aduan. Ini menjadi momentum untuk membenahi semuanya, agar taat dengan juknis yang diterbitkan BGN,” terang Tengku.
Empat Ribu SPPG Jateng
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jawa Tengah, Suwardi menyebut, kesepakatan tersebut menjadi titik temu antara pemerintah dan peternak.
Menurut Suwardi, Jawa Tengah saat ini memiliki populasi ayam petelur sekitar 39 juta ekor, dengan produksi telur mencapai 2.200 ton per hari. Dari jumlah tersebut, kebutuhan Jawa Tengah sekitar 1.400 ton per hari, sehingga masih terdapat surplus produksi.
Dengan sekitar 4.000 SPPG di Jawa Tengah, Suwardi memperkirakan penyerapan melalui MBG dapat mencapai 7 hingga 8 persen dari total produksi telur.
“Kalau seluruh dapur di Jawa Tengah menggunakan telur dua kali dalam seminggu, diperkirakan terserap sekitar 1.050 ton per minggu,” ujarnya.
Dari sektor ayam pedaging, Ketua Asosiasi Peternak Pedaging Jawa Tengah (Pinsar Jawa Tengah), Susilo menyampaikan, kondisi harga ayam hidup di tingkat peternak, masih berada di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).
“HPP saat ini sekitar Rp20 ribu. Harga yang terjadi sekitar Rp17 ribu, sehingga peternak mengalami kerugian. Ini karena terjadi over suplai,” katanya.
Menurut Susilo, penyerapan melalui MBG diharapkan mampu mengurangi kelebihan pasokan ayam, sehingga harga di tingkat peternak bisa kembali membaik. (pra)






