Home » Peternak Pati Mandi Telur dan Makan Ayam Hidup, Protes Harga Anjlok dan Pakan Naik
IMG-20260810-WA0028

Unjuk rasa kalangan peternak unggas di depan Kantor Bupati Pati memanas. (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Pati — Telur beterbangan, ayam dilempar hingga seorang peternak nekat mandi telur dan memakan ayam hidup-hidup. Pemandangan tak biasa mewarnai unjuk rasa ratusan peternak unggas di depan Kantor Bupati Pati, Jawa Tengah, Senin (10/8/2026).

 

Mereka datang bukan sekadar membawa hasil ternak, tetapi membawa simbol keresahan. Kondisi itu setelah harga telur dan ayam terus terpuruk di tengah harga pakan yang kian mencekik.

 

Massa bahkan mengangkut sekitar 1 ton telur dan 1 ton ayam menggunakan truk dan mobil pikap. Sebagian hasil ternak dibagikan kepada masyarakat. Dan sebagian lainnya, menjadi bagian dari aksi protes yang memanas setelah peternak menunggu pejabat daerah menemui mereka.

 

Demonstran membentangkan spanduk kritikan terhadap pemerintah. (kanalmuria)

 

Teatrikal mandi telur dan memakan ayam hidup-hidup, menjadi gambaran ekstrem tentang kondisi yang mereka rasakan. Bagi peternak, hasil ternak yang semestinya menjadi sumber penghasilan, kini justru dianggap tak lagi mampu menutup ongkos produksi.

 

Ratusan peternak mulai berkumpul di depan Kantor Bupati Pati sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka datang menggunakan truk dan mobil pikap sambil membawa telur dan ayam hasil ternak. Sejumlah spanduk berisi kritik terhadap pemerintah turut dibentangkan di lokasi aksi.

 

Situasi kemudian memanas, setelah pejabat Pemkab Pati tak kunjung menemui para demonstran. Telur dan ayam kemudian dilemparkan ke arah kompleks Kantor Bupati Pati. Aksi itu sebagai bentuk kekecewaan peternak atas kondisi usaha yang mereka nilai semakin terpuruk.

 

Peternak Pati Mengamuk, Lempar Telur ke Kantor Bupati dan Bawa 1 Ton Ayam (kanalmuria)

 

Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto, mengatakan aksi teatrikal mandi telur dan memakan ayam hidup-hidup merupakan simbol kondisi peternak yang terus mengalami kerugian.

 

Menurut Agus, harga jual telur dan ayam telah mengalami penurunan selama sekitar empat hingga lima bulan terakhir. Pada saat yang sama, biaya pakan justru meningkat sehingga keuntungan peternak semakin tergerus.

 

“Daripada (ayam dan telur) dijual, lebih baik dimakan sendiri saja. Peternak memilih membagikan telur dan ayam kepada masyarakat, ” ujar Agus.

 

Baca Juga: Wilayah Pati Selatan Dihantui Krisis Air Bersih, Warga Terdampak Kekeringan Menanti Bantuan

 

Agus menyebut bahwa hasil ternak yang dibawa dalam unjuk rasa di depan Kantor Bupati Pati kali ini, dinilai sudah tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksinya.

 

Sekitar 1 ton telur dan 1 ton ayam sengaja dibawa para demonstran ke lokasi unjuk rasa. Pembagian hasil ternak kepada masyarakat ini, menjadi simbol bahwa sebagian peternak merasa sudah berada di titik sulit untuk mempertahankan usaha mereka.

 

Agus menyebut harga telur di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp 20 ribu per kilogram. Padahal berdasarkan perhitungan peternak, harga ideal agar usaha tetap dapat berjalan berada di sekitar Rp26.500 per kilogram.

 

Selisih harga ersebut, kata Agus, membuat peternak Pati mengklaim mengalami kerugian sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per kilogram telur yang dihasilkan.

 

Tekanan serupa juga dirasakan peternak ayam pedaging. Harga ayam pedaging saat ini disebut berada di kisaran Rp21.500 per kilogram. Sedangkan harga ideal yang diharapkan peternak sekitar Rp22 ribu per kilogram.

 

Menurut Agus, persoalan semakin berat karena harga pakan juga mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir. Harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp400 ribu per sak, kini naik menjadi sekitar Rp450 ribu per sak.

 

Kenaikan biaya pakan tersebut, sebut Agus, semakin mempersempit margin peternak ketika harga jual telur dan ayam justru melemah. Bahkan, kondisi itu disebut telah membuat sejumlah peternak memilih menghentikan kegiatan usahanya.

 

Baca Juga: Pikap New Carry Terbakar Usai Tabrak Truk di Cluwak Pati, Kerugian Rp110 Juta

 

Berdasarkan catatan asosiasi peternak unggas, terdapat sekitar 400 peternak unggas yang telah terverifikasi sebagai anggota di Kabupaten Pati. Selain itu, diperkirakan terdapat sekitar 200 peternak lainnya yang belum terdaftar.

 

Dengan demikian, jumlah peternak unggas di Kabupaten Pati diperkirakan mencapai sekitar 600 peternak. Pihak asosiasi khawatir jumlah peternak yang berhenti beroperasi semakin bertambah, jika harga telur dan ayam tetap rendah, sementara biaya pakan terus meningkat.

 

Peternak mengaku persoalan tersebut sebenarnya telah beberapa kali disampaikan melalui audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Pati. Namun, mereka menilai, bahwa pertemuan yang telah dilakukan belum menghasilkan langkah konkret menekan harga pakan maupun memperbaiki harga jual telur.

 

Karena itu, massa memberikan tenggat kepada pemerintah hingga akhir Agustus 2026 untuk mengambil langkah nyata. Jika hingga batas waktu tersebut tidak ada perubahan, peternak mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa yang lebih besar.

 

Tuntutan mereka terutama menyangkut harga pakan yang dinilai terlalu tinggi serta harga telur dan ayam yang berada di bawah tingkat yang dianggap layak untuk menjaga keberlangsungan usaha.

 

Peternak meminta pemerintah daerah maupun pemerintah pusat mengambil langkah konkret. Mereka khawatir persoalan yang berlarut-larut, semakin membuat banyak peternak menghentikan usahanya.

 

Sementara itu, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, keluhan peternak terkait tingginya harga pakan akan dibawa ke pemerintah pusat.

 

Pemerintah Kabupaten Pati juga berencana berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Yakni agar kebutuhan telur untuk program MBG dapat diserap dari peternak lokal.

 

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan penyerapan telur produksi peternak Kabupaten Pati. Selain itu, membantu membuka pasar bagi hasil ternak lokal.

 

Aksi di depan Kantor Bupati Pati menjadi bentuk tekanan keras peternak, setelah harga telur dan ayam mengalami penurunan selama berbulan-bulan di tengah kenaikan biaya pakan.

 

Lemparan telur, satu ton telur dan satu ton ayam yang dibawa ke lokasi, hingga teatrikal mandi telur dan memakan ayam hidup-hidup menjadi simbol keresahan peternak yang merasa usahanya semakin terjepit.

 

Kini, peternak memberikan waktu kepada pemerintah hingga akhir Agustus. Jika tidak ada perubahan nyata, mereka mengancam kembali turun ke jalan dengan kekuatan massa yang lebih besar.

 

Bagi para peternak, persoalannya bukan sekadar soal harga telur atau ayam. Ini menyangkut apakah usaha peternakan rakyat di Pati masih bisa bertahan atau perlahan harus berhenti di tengah mahalnya biaya produksi. (pra)