Home » Keren, Ganjar Lihat Proses Pengolahan Porang di Sukoharjo
SUKOHARJO, KanalMuria – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkesempatan melihat proses pengolahan tanaman porang, yang diolah kelompok petani porang di Kabupaten Sukoharjo.

SUKOHARJO, KanalMuria – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkesempatan melihat proses pengolahan tanaman porang, yang diolah kelompok petani porang di Kabupaten Sukoharjo. (Foto: Dok Sukoharjo)

SUKOHARJO, KanalMuria – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkesempatan melihat proses pengolahan tanaman porang, yang diolah kelompok petani porang di Kabupaten Sukoharjo. Bahkan Ganjar ikut menanam bibit porang, serta menikmati makanan dan minuman yang berbahan dasar porang.

“Kalau kemarin saya mencoba mi ayam yang dibuat dari mocaf, sekarang saya cicipi porang jel, atau jelly yang dibuat dari porang dicampur kelapa muda. Ternyata benar-benar mirip jelly dan enak. Satu lagi ini ada mi ayam, minya dibuat dari porang juga, bentuknya agak keriting, rasanya ternyata enak,” kata Ganjar, saat mencicipi makanan dan minuman hasil olahan petani porang di Dukuh Tritis, Desa Kamal, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, Senin (31/10).

Dikutip dari laman jatengprov.go.id, sebelum mencicipi makanan dan minuman dari bahan dasar porang itu, Ganjar lebih dulu melihat proses memanen hingga mengolah porang yang diproduksi Sahabat Petani Porang Sukoharjo (SPPS). Ganjar dibuat kagum dengan apa yang dilakukan para petani porang itu. Sebab, mereka sudah mampu menciptakan teknologi sederhana untuk menghilangkan efek gatal dari porang.

“Ini menurut saya keren ya. Jadi dari uji coba sejak tiga tahun ini, kawan-kawan menanam dan memproses. Bahkan yang sering jadi problem karena (porang) itu gatal, ternyata sudah ada teknologinya dengan cara ekstraksi. Ternyata ditemukan di sini, petani sendiri yang membuat metode itu. Ini cara basah, ini cara kering,” jelasnya.

Tak berhenti di situ, imbuh Ganjar, ternyata para petani porang sudah mampu mengolah porang menjadi produk turunan, seperti tepung glukoman. Bahkan, para petani itu sekarang mulai meriset untuk membuat beras analog dengan bahan baku porang. Untuk beras analog ini mereka mencoba mengolah menjadi beberapa varian, yakni murni berbahan porang, dan ada yang dicampur dengan mocaf (tepung singkong) dan sorgum.

“Ketika kemudian industri ini sudah jadi, usul saya tidak hanya menanam selesai. Proses sudah bagus, gatal tidak ada lagi, tepung sudah bisa dibuat di sini. Lalu mulai dicampur, ada dengan mocaf satu lagi dengan sorgum. Mereka riset terus menerus. Ini otaknya ternyata alumni Brawijaya, labnya UGM ikut terlibat,” ungkapnya.

Melihat praktik menakjubkan itu, gubernur mendorong agar para petani mengembangkan industri porang tersebut. Dalam hal ini para petani dapat melibatkan BRIN dan Brida, atau lembaga riset lainnya. Ganjar juga mendorong agar investasi di bidang produksi olahan porang itu ditambah.

“Misi kawan-kawan petani ini juga menarik, karena lebih banyak pada pemberdayaan dan kemanusiaan. Jadi petani di tempat lain bisa ikut belajar dan menggunakan teknologi ini. Apalagi mereka sudah mematenkan produk itu. Hari ini orang yang tanam porang lagi nangis karena harganya jatuh, lagi euforia porang kan sekarang. Maka saya dorong agar ada orang yang nanti menanamnya iya, processing-nya iya, nah sekarang jualnya,” ujarnya.

Ganjar menambahkan, kesuksesan petani di Sukoharjo itu menambah keyakinan, jika ketahanan dan kemandirian pangan akan tetap terjaga. Termasuk ketika nanti dunia mengalami krisis pangan, masyarakat sudah siap dengan pangan alternatif ini.

Petani porang di Dukuh Tritis Desa Kamal, Erwin Lasianto, mengatakan, konsep bertani porang seperti yang ia lakukan bersama petani lainnya sudah dimulai sejak 2017. Bukan hanya mengajarkan proses on farm-nya atau budidaya, melainkan juga memberikan sebuah edukasi.

“Jadi kita dari on farm sampai off farm-nya, dari hulu sampai hilir. Olahan dari porang yang dari kami itu adalah beras porang, tepung glukoman, dan juga ada beberapa olahan turunan, antara lain brownies, dan dodol. Lalu masih banyak lagi yang sudah kita pasarkan di temen-temen UKM,” ujar petani yang juga Ketua SPPS itu. (iby/de)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *