
Tim Pemprov Jateng mengecek banjir rob di Desa Tunggulsari Pati. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Pati- Banjir rob di Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati sendiri bukanlah cerita baru. Selain karena fenomena alam, ada tata kelola penggunaan lahan yang salah oleh warga desa setempat.
Penggunaan lahan yang salah pemicu banjir rob, akibat warga lebih banyak melakukan budi daya ikan nila salin daripada ikan bandeng. Alasannya karena pertimbangan masa panen yang cepat.
Kepala Desa Tunggulsari Setyo Wahyudi menjelaskan, bahwa budi daya ikan nila memicu warga membuat sumur bor secara serampangan. Langkah itu untuk mendapatkan suplai air tawar untuk tambak ikan nila.

Sejak tahun 2016 hingga saat ini, kata Setyo, ada sedikitnya 106 titik sumur bor di Desa Tunggulsaru. Seratusan sumur bor rata-rata memiliki kedalaman 90 meter lebih.
Menurut Setyo, keberadaan sumur ini beroperasi selama 24 jam penuh. Dengan kondisi itu, tentunya sangat berimbas pada penurunan muka tanah di wilayah Desa Tunggulsari.
“Benar, banjir rob karena alam, tapi ada pemicunya disini. Banyaknya sumur bor yang dibuat warga untul suplai air tawar ke tambak ikan nila. Ada sekitar 106 titik sumur bor, kedalamanya 90 meter lebih. Tentunya ini membuat penurunan muka tanah. Pernah diteliti turun 2 centimemeter per tahun”, papar Setyo.
Yang lebih ironis lagi, warga Desa Tunggulsari terdampak banjir rob, menolak untuk direlokasi ke lokasi yang akan. Alasan warga karena mereka tidak bisa auh dari ladang mata pencahariaannya.
“Minta diselamatkan, tapi tidak mau direlokasi. Sekarang ini mengungsi pun belum pada mau, lebih memilih tetap di rumah dengan genangan banjir rob. Memang harus sabar menangani warga”, tambah Setyo.
Dari hasil data BPBD Jawa Tengah, saat ini ada 73 rumah warga yang terdampak dengan 127 Kepala Keluarga. Sedangkan area tambak yang terdampak mencapai 85 hektar. (pra)






