
Beragam penyakit kerap muncul mulai dari gangguan saluran pernapasan hingga dehidrasi saat musim kemarau. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Pati – Memasuki musim kemarau, masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan kesehatan akibat meningkatnya suhu udara, paparan debu, serta berkurangnya ketersediaan air bersih. Kondisi tersebut tentu berpotensi memicu peningkatan berbagai penyakit.
Beragam penyakit yang kerap muncul mulai dari gangguan saluran pernapasan hingga dehidrasi. Ancaman penyakit ini tentu dapat membahayakan keselamatan warga, apabila tidak segera diobati.
Karena itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Safin Pati, Yeni Rusyani, S.Kep., Ns., M.Kep., mengingatkan masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatannya. Selain itu, menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini selama musim kemarau berlangsung.

“Menjaga kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis saja, tetapi juga membutuhkan kesadaran setiap individu dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat, ” ujar Yeni.
Menurut Yeni, musim kemarau identik dengan cuaca panas, meningkatnya debu di lingkungan, serta keterbatasan air bersih. Kondisi itu menjadi faktor utama yang menyebabkan berbagai penyakit lebih mudah muncul di tengah masyarakat.
Yeni menekankan pentingnya tiga langkah utama yang harus diterapkan. Diantaranya mencukupi kebutuhan cairan tubuh, menjaga kebersihan diri dan makanan, serta menggunakan pelindung diri seperti masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Ia mengungkapkan, terdapat tiga kelompok penyakit yang paling sering mengalami peningkatan selama musim kemarau. Pertama, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk, dan pilek akibat paparan debu serta polusi udara.
Baca Juga: Beasiswa Chevening 2027 Dibuka, Kemendikdasmen Buka Peluang Kuliah S2 Gratis di Inggris
Penyakit kedua, kata Yeni, diare dan muntaber yang dipicu oleh menurunnya kualitas air bersih, maupun makanan yang mudah terkontaminasi. Ketiga, dehidrasi hingga heat stroke akibat paparan suhu tinggi dalam waktu yang lama.
“Meningkatnya kasus penyakit tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya udara yang semakin kering sehingga debu dan polutan lebih mudah terhirup,” ungkapnya.
Selain itu, juga akibat keterbatasan air bersih yang berdampak pada kebersihan lingkungan dan makanan. Serta cuaca ekstrem yang menyebabkan tubuh lebih cepat kehilangan cairan, sehingga daya tahan tubuh ikut menurun.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, Yeni mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat. Caranya. melalui langkah sederhana, seperti minum air putih minimal dua liter setiap hari dan tidak menunggu hingga merasa haus.
“Kemudian memakai masker ketika berada di luar ruangan, serta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan maupun setelah beraktivitas, ” tukasnya.
Bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan atau melakukan aktivitas fisik berat, Yeni menyarankan agar kebutuhan cairan tidak hanya dipenuhi melalui air putih saja. Namun juga diimbangi dengan asupan elektrolit.
Selain itu, penggunaan pakaian berbahan ringan dan berwarna terang. Tak kalah pentingnya memakai pelindung,seperti topi atau payung juga penting untuk mengurangi paparan panas secara langsung.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengenali tanda-tanda awal dehidrasi. Gejalanya seperti rasa haus berlebihan, bibir dan mulut kering. Tanda tanda lainnya, warna urine menjadi kuning pekat, frekuensi buang air kecil berkurang, hingga tubuh terasa lemas dan pusing.
Yeni menyarankan, apabila muncul gejala yang lebih berat seperti penurunan kesadaran dan suhu tubuh sangat tinggi tanpa mengeluarkan keringat, jantung berdebar cepat, atau tidak buang air kecil dalam waktu yang lama, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Selain menjaga kecukupan cairan tubuh, Yeni menilai daya tahan tubuh juga harus dipelihara melalui konsumsi makanan bergizi seimbang. Tak ketinggalan, memperbanyak buah dan sayuran yang kaya vitamin serta kandungan air dan mencukupi waktu istirahat.
“Tetap berolahraga pada waktu yang tepat, yakni di pagi atau sore hari ketika intensitas sinar matahari tidak terlalu tinggi, ” tambahnya.
Baca Juga: Seni Ukir Jepara Mengguncang Jakarta, Tatah 2026 Diserbu 73 Ribu Pengunjung
Yeni menambahkan, ada beberapa kelompok masyarakat yang memerlukan perhatian lebih selama musim kemarau. Mereka adalah bayi dan balita, lansia, penderita penyakit kronis seperti asma, penyakit jantung maupun hipertensi, serta para pekerja luar ruangan.
“Kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami dehidrasi, heat stroke, maupun gangguan saluran pernapasan, sehingga perlu mendapatkan perlindungan ekstra dari keluarga maupun lingkungan sekitar, ” tandasnya.
Khusus bagi para orang tua, Yeni mengimbau agar memastikan anak-anak memperoleh asupan cairan yang cukup, membatasi aktivitas bermain pada saat cuaca sangat panas dan menjaga kebersihan makanan dan minuman.
“Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan, apabila mengalami gejala dehidrasi ataupun kondisi kesehatan yang memburuk,” pinta Yeni,
Sementara bagi lansia, keluarga diharapkan membantu mengatur jadwal minum secara rutin karena kemampuan merasakan haus pada usia lanjut umumnya sudah menurun.
Yeni mengajak masyarakat menjadikan pencegahan sebagai langkah utama dalam menghadapi musim kemarau. Dengan kesadaran masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini, risiko berbagai penyakit yang muncul selama musim kemarau dapat ditekan.
“Sehingga masyarakat tetap sehat, aman, dan produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” pungkasnya. (krp)






