Home » Gangguan Penglihatan Anak Kerap Tak Disadari, Puluhan Guru SD di Kudus Dibekali Skrining Mata
IMG-20260814-WA0007

RS Mardi Rahayu dan Rotary melatih guru SD di Kudus deteksi gangguan mata anak. (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Kudus– Kondisi gangguan penglihatan pada anak anak terjadi, kerap tidak disadari sejak awal oleh kalangan orang tua di Kabupaten Kudus. Anak anak terkadang belum mampu menyampaikan keluhan secara jelas.

 

Akibatnya, masalah penglihatan tentu memengaruhi aktivitas belajar mereka baik di rumah ataupun di sekolah. Mereka mulai kesulitan membaca dan tidak mampu melihat tulisan di papan tulis.

 

“Dampak lainnya, menurunnya konsentrasi anak anak hingga berpotensi berdampak pada prestasi akademik mereka, ” ujar Direktur RS Mardi Rahayu Kudus, dr Pujianto.

 

Kalangan guru SD di Kudus dibekali pelatihan menjadi garda terdepan deteksi gangguan mata anak (kanalmuria)

 

Karena itu, kata Pujianto, sekolah dipandang sebagai salah satu lokasi strategis untuk melakukan deteksi awal. Sebab di sekolah, interaksi guru dengan siswa setiap hari memungkinkan berbagai perubahan perilaku belajar diamati lebih cepat.

 

Keberadaan sekolah yang dipandang sangat strategis itu, mendorong diselenggarakannya Pelatihan Dasar Skrining Kesehatan Mata bagi Guru Sekolah Dasar di Kudus pada Kamis (13/8/2026).

 

Agenda skrinning kesehatan mata ini diikuti sebanyak 50 guru SD dari wilayah binaan Puskesmas Wergu, Kecamatan Kota Kudus. Pelatihan dilakukan di RS Mardi Rahayu Kudus didukung Rotary Club Kudus bersama Rotary Club Kudus Srikandi dan Rotary Club Semarang Kunthi.

 

Puluhan Guru SD di Kudus dibekali skrining mata di RS Mardi Rahayu (kanalmuria)

 

Pujianto pun mendukung institusi yang dipimpinya, menjadi lokasi kegiatan pelatihan. Hal itu sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan sja, namun juga pendidikan kesehatan dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Rumah sakit tersebut juga turut mendukung pelatihan tersebut, sebagai bagian dari kolaborasi antara rumah sakit, Rotary Club, sekolah dan tenaga kesehatan. Yakni memperkuat upaya kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan mata anak.

 

Menurut Pujianto, pelatihan ini diharapkan meningkatkan kesadaran guru terhadap kesehatan mata anak. Selain itu, meningkatkan kemampuan melakukan skrining dasar ketajaman penglihatan, mengenali tanda gangguan penglihatan sejak dini serta mendorong proses rujukan yang cepat dan tepat kepada tenaga kesehatan.

 

Baca Juga: Safin Pati Sports School Buka Program Merdeka 81: Tawarkan Ekosistem Pendidikan dan Sepak Bola Lengkap

 

Sementara itu, Presiden Rotary Club Kudus Paulus Rawuh mengatakan, pelatihan diarahkan untuk membekali guru dengan kemampuan dasar mengenali tanda-tanda gangguan penglihatan.

 

“Selain itu, melakukan skrining awal ketajaman penglihatan sebelum siswa mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga kesehatan, ” terang Paulus.
Menurut Paulus, keterlibatan guru menjadi bagian penting dalam memperluas deteksi dini gangguan penglihatan anak.

 

“Guru memiliki posisi strategis, karena setiap hari berinteraksi langsung dengan siswa. Guru dapat mengamati perubahan perilaku belajar yang berpotensi menjadi tanda adanya gangguan penglihatan,” paparnya.

 

Melalui pelatihan tersebut, guru mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kesehatan mata anak. Serta anatomi dan fungsi dasar mata, berbagai gangguan refraksi seperti miopia, hipermetropia dan astigmatisma, hingga tanda-tanda gangguan penglihatan.

 

“Guru juga diperkenalkan dengan metode dasar pemeriksaan ketajaman penglihatan menggunakan kartu Snellen serta mekanisme rujukan kepada tenaga kesehatan, ” terangnya.

 

Paulus menegaskan, peran guru dalam program tersebut bukan untuk menggantikan dokter atau tenaga kesehatan. Guru ditempatkan sebagai mitra strategis membantu melakukan deteksi awal.

 

“Sehingga anak yang diduga mengalami gangguan penglihatan, dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih cepat, ” tandanya.

 

Paulus menambahkan, pelayanan kesehatan tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah sakit. Namun pencegahan dan edukasi juga menjadi bagian penting.

 

“Dengan kemampuan mengenali tanda awal gangguan penglihatan, peluang anak mendapatkan bantuan secara tepat waktu akan semakin besar,” tandasnya.

 

Pihaknya berharap program tersebut tidak berhenti pada pelatihan bagi 50 guru saja. Namun menjadi awal gerakan bersama memperluas akses deteksi dini gangguan penglihatan anak di Kabupaten Kudus dan wilayah lainnya.

 

Baca Juga: Alumni SMA Safin Bina Bangsa Pati Diterima di Berbagai Perguruan Tinggi, Bukti Nyata Pendidikan Meraih Masa Depan

 

Melalui kolaborasi antara organisasi sosial, rumah sakit, sekolah dan tenaga kesehatan, maka semakin banyak anak yang memiliki kesempatan mendapatkan pemeriksaan kesehatan mata sejak dini. Sehingga dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal. (pra)