Home » Gerak Seribu Makna dari Kudus, 670 Penari Antarkan Lajur Caping Kalo ke Rekor Dunia
IMG-20260926-WA0013

Tari Lajur Caping Kalo tercatat sebagai rekor dunia Museum Rekor-Dunia Indonesia. (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Kudus,- Enam ratus tujuh puluh penari di Kudus Jawa Tengah bergerak dalam satu irama. Caping menjadi simbol, gerak menjadi bahasa, dan tradisi Kudus menjelma menjadi pertunjukan kolosal yang menembus batas.

 

Tari Lajur Caping Kalo akhirnya tercatat sebagai rekor dunia Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Capaian ini menandai satu lagi babak penting dalam perjalanan pelestarian budaya di Kota Kretek -sebutan lain Kabupaten Kudus.

 

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-477 Kota Kudus. Lebih dari sekadar pertunjukan massal, ribuan gerak yang menyatu itu, membawa pesan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

 

Pagelaran Tari Caping Kalo bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-477 Kota Kudus. (kanalmuria)

 

Kabupaten Kudus bukan kali pertama mencatatkan prestasi di MURI. Namun, pagelaran Tari Lajur Caping Kalo kembali memperlihatkan kuatnya semangat masyarakat menjaga dan menghidupkan kebudayaan daerah.

 

“Untuk Kabupaten Kudus, ini bukan yang pertama kali. Pada kesempatan ini MURI kembali hadir memberikan apresiasi terhadap semangat pelestarian budaya yang sungguh luar biasa,” ujar Senior Representative MURI Wilayah Semarang dan Jawa Tengah, Ari Andriani.

 

Pencatatan rekor MURI dengan jumlah penari terbanyak tersebut, bermula dari usulan 477 peserta. Setelah melalui proses verifikasi, jumlah peserta yang memenuhi ketentuan justru mencapai 670 penari.

 

Dari 477 peserta yang diusulkan, maka verifikasi harus memenuhi sebanyak 670 penari. Mereka tidak hanya menari, namun juga menunjukkan seni budaya warisan leluhur melalui gerakan yang indah dan selaras.

 

Bagi MURI, capaian itu bukan semata-mata soal jumlah penari yang tampil dalam satu panggung. Tari Lajur Caping Kalo dipandang merepresentasikan simbol budaya Kabupaten Kudus. Selain itu, pencatatannya tidak berhenti pada kategori rekor nasional.

 

“Mengingat tarian ini merupakan tarian yang menceritakan simbol budaya Kudus, maka oleh Ketua Umum MURI capaian ini tidak hanya dicatatkan sebagai rekor nasional, tetapi dibukukan sebagai rekor dunia,” tukas Ari.

 

Rekor tersebut sekaligus menjadi penanda, bahwa kebudayaan daerah dapat menemukan bentuk baru untuk terus hadir di tengah masyarakat.

 

Tradisi tidak hanya diwariskan melalui cerita dan pertunjukan saja. Namun juga dapat diperkenalkan melalui berbagai medium yang dekat dengan generasi masa kini.

 

Semangat itulah yang disampaikan Giring Ganesha selaku Wakil Menteri Kebudayaan, yang hadir menyaksikan agenda tersebut.

 

Giring juga mengajak generasi muda Kudus mengambil bagian dalam pelestarian budaya. Sebab perkembangan teknologi dan media sosial, dapat menjadi jembatan untuk membawa kekayaan budaya lokal dikenal lebih luas hingga mancanegara.

 

“Saya mengajak anak-anak muda untuk melestarikan budaya ini. Silakan bagikan melalui semua media sosial agar Tari Lajur Caping Kalo dan budaya Kudus bisa dikenal dan mendunia,” ajak Giring.

 

Giring menyebut bahwa pelestarian budaya perlu ditopang dengan penguatan ruang-ruang kebudayaan. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan rencana perbaikan dua museum di Kudus Jawa Tengah, yakni Museum Kretek dan Museum Patiayam.

 

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pelestarian dan edukasi budaya di Kudus. Museum bukan hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga ruang mempertemukan generasi sekarang dengan jejak perjalanan masyarakat dan kebudayaannya.

 

Sementara itu, pihak MURI berharap agar pencatatan Tari Lajur Caping Kalo sebagai rekor dunia tidak berhenti sebagai sebuah capaian seremonial. Rekor tersebut menjadi pemantik agar masyarakat semakin percaya diri mengenalkan kebudayaan daerah kepada generasi berikutnya.

 

“Semoga capaian ini menjadi pemantik semangat untuk mengenalkan kebudayaan kita,” pungkas Ari.

 

Pada akhirnya, 670 penari itu tidak hanya meninggalkan jejak dalam catatan rekor. Mereka membawa satu pesan dari Kudus: budaya akan tetap hidup ketika masyarakatnya bersedia merawat, menghidupkan, dan memperkenalkannya kembali kepada zaman.

 

Dari gerak Tari Lajur Caping Kalo, Kudus menunjukkan bahwa tradisi tidak harus membeku menjadi masa lalu. Ia dapat terus bergerak—mengikuti zaman, memasuki ruang digital, dan melangkah hingga dunia—tanpa kehilangan akar yang membuatnya menjadi bagian dari identitas daerah. (pra)

1 thought on “Gerak Seribu Makna dari Kudus, 670 Penari Antarkan Lajur Caping Kalo ke Rekor Dunia”

Comments are closed.