Home » Fadli Zon Dukung Seni Ukir Jepara Warisan Budaya Takbenda Unesco, Buku TATAH Dikenalkan Publik
IMG-20260711-WA0017

Upaya menempatkan seni ukir Jepara sebagai pusat peradaban budaya dunia didukung penuh Pemerintah Pusat. (kanalmuria)

Kanalmuria.com, ​Jepara – Upaya menempatkan seni ukir Jepara sebagai pusat peradaban budaya dunia, mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat.

 

Bersamaan pameran seni ukir Tatah yang telah menyedot lebih dari 53 ribu pengunjung di Museum Nasional Indonesia (MNI), sebuah buku monumental berjudul TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara – Rekonstruksi Jepara  Melalui Seni Ukir dikenalkan ke publik.

 

​Dalam agenda bedah buku yang digelar di Ruang Teater MNI Jakarta ini, dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Bupati Witiarso Utomo. Selain itu, sejumlah perwakilan kementerian terkait.

 

Menteri Fadli Zon perkenalkan Buku TATAH perkuat pelestarian dan pengembangan seni ukir Jepara. (kanalmuria)

 

Agenda itu menandai babak baru dalam menempatkan Jepara bukan sekadar sentra industri mebel saja. Namun melainkan pusat peradaban dengan nilai sejarah yang tinggi.

 

​Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menegaskan, bahwa seni ukir Jepara merupakan warisan luhur yang menyimpan nilai artistik tinggi dan berpotensi ekonomi kreatif yang besar.

 

Karya-karya hebat dari para pengukir Bumi Kartini, kata Fadli Zon, telah lama melanglang buana hingga mancanegara dan menjadi bagian dari industri kreatif global.

 

Baca Juga: Viral! Warga Pati Tebar Lele di Jalan Rusak, Sindir Pemkab yang Tak Kunjung Memperbaiki

“Seni ukir Jepara bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan pencapaian artistik yang tinggi sebagai ekspresi budaya Indonesia,” ujar Fadli Zon pada Sabtu (11/7/2026).

 

​Fadli menilai, kehadiran buku ini memiliki nilai strategis yang kuat untuk memperkuat literasi sejarah. Selain itu, menawarkan perspektif baru tentang masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia.

 

Di tengah kekhawatiran menyusutnya generasi muda yang menekuni seni ukir, Kementerian Kebudayaan berkomitmen meluncurkan langkah konkret lewat pelatihan bersama maestro ukir hingga pengembangan sekolah lokakarya.

 

​Lebih dari itu, Pemerintah Pusat juga memastikan terus mengawal penguatan mekanisme perlindungan tradisi ini di kancah internasional.

 

“Buku ini menjadi ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara sekaligus memperkuat upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatannya,” tukas Fadli.

 

Fadli menambahkan, pemerintah terus mengupayakan pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

 

​Merespons dukungan besar dari pusat, Bupati Witiarso Utomo menyambut baik peluncuran buku ini sebagai instrumen penting bagi pemerintah daerah.

 

“Buku ini menjadi bagian krusial dari strategi memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda, agar identitas budaya daerah tidak tergerus arus modernisasi, ” terangnya.

 

​Melihat tingginya antusiasme masyarakat di mana pameran TATAH telah menembus angka 53 ribu pengunjung sejak April 2026, pihaknya optimistis seni ukir Jepara punya daya tarik yang luar biasa jika dikelola dengan tepat.

 

​Ia menyebut, bahwa tantangan utama yang dihadapi Jepara saat ini bukan lagi sekadar menjaga tradisi secara pasif. Melainkan bagaimana mengemas seni ukir tersebut, agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan mampu menarik minat generasi muda.

 

“Kami berharap melalui buku ini anak-anak muda semakin memahami sejarah seni ukir Jepara sehingga tradisi ini terus hidup dan berkembang,” tegas Mas Wiwit.

 

​Buku TATAH sendiri menawarkan cara pandang baru dalam membaca sejarah Jepara.

 

Baca Juga: SPMB Jepara 2026 Tuntas, Lima SD Sempat Kekurangan Murid Kini Penuhi Kuota Siswa

 

Dr. Arif Akhyat, M.A, salah satu penulis buku menjelaskan, bahwa seni ukir direkonstruksi ulang melalui penelusuran artefak dan arsip yang belum banyak dikaji dalam historiografi nasional.

 

“Buku ini mengajak masyarakat melihat seni ukir sebagai bagian dari sejarah, budaya, dan identitas Jepara yang terus berkembang,” terangnya.

 

​Direktur TATAH, Veronica Rompies, menambahkan, bahwa peluncuran ini diharapkan memantik ruang diskusi dan riset yang lebih luas.

 

“Terutama dalam memperhatikan nasib para pengukir sebagai penjaga pengetahuan dan tradisi yang menopang keberlangsungan warisan budaya ini, ” tambahnya.

 

​Rangkaian pameran seni ukir TATAH di Museum Nasional Indonesia masih akan berlangsung hingga 2 Agustus 2026.

 

Melalui kolaborasi kuat antara pusat dan daerah ini, seni ukir Jepara diharapkan kian kokoh berdiri sebagai identitas bangsa yang dipromosikan di panggung internasional. (pra)