
Pelatihan inovasi produk ornamen ukir Jepara dan pelatihan pemanfaatan limbah kayu. (Key rasya/kanalmuria)
Kanalmuria.com, Jepara– Daya saing industri mebel dan ukir yang menjadi gantungan masyarakat Kabupaten Jepara terus diperkuat oleh pemerintah daerah setempat.
Salah satu strateginya melalui pelatihan inovasi produk berbasis ornamen ukir dam pelatihan pemanfaatan limbah kayu. Kemudian dilanjutkan dengan pendistribusian Kartu Mebel Jepara kepada para pekerja sektor mebel.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri unggulan daerah. Serta meningkatkan kesejahteraan para pelakunya.

Sejumlah kegiatan pelatihan berbasis ukir kayu, memiliki nilai strategis bagi masa depan industri mebel Jepara. Sebab industri ini yang telah dikenal dunia sebagai pusat ukir atau the world carving center.
“Industri mebel dan ukir tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga warisan budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan, ” ujar Bupati Jepara, Witiarso Utomo.
Witiarso menyebut bahwa Jepara dikenal berbagai penjuru dunia sebagai the world carving center.
“Jangan mudah terlena hanya dengan menjaganya. Kita juga harus terus mengembangkannya agar mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Witiarso, Rabu (22/6/2026).
Ia menjelaskan, perubahan pasar yang berlangsung cepat menuntut pelaku usaha menghadirkan produk yang tidak hanya berkualitas. Namun juga inovatif, ramah lingkungan, serta memiliki nilai budaya yang kuat.
“Karena itu, pelatihan inovasi produk dengan ornamen ukir dan pemanfaatan limbah kayu dinilai sangat relevan untuk menciptakan desain baru sekaligus meningkatkan nilai tambah produk, ” terang Witiarso.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar perekonomian Jepara dengan sumbangan 33,61 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2025.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi Jepara juga tercatat mencapai 5,41 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4,26 persen.
Selain itu, sektor industri menyerap sekitar 338.799 tenaga kerja, menjadikannya sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di daerah tersebut.
Di sektor furniture, terdapat 892 perusahaan dengan nilai investasi lebih dari Rp1,17 triliun dan mampu menyerap sedikitnya 8.259 tenaga kerja.
Komoditas furniture kayu juga menjadi andalan ekspor Jepara dengan nilai mencapai sekitar 197 juta dolar AS atau setara Rp3,29 triliun pada 2025, yang dipasarkan ke 114 negara tujuan ekspor. Nilai tersebut menyumbang 34,5 persen dari total ekspor Jepara.
Sebagai bentuk dukungan terhadap sektor tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara telah menyiapkan sejumlah program unggulan dalam visi Jepara Mulus.
Program itu meliputi Festival Ukir Internasional, pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, UMKM Naik Kelas, hingga Kartu Mebel Jepara yang mulai diserahkan kepada para pekerja mebel.
Witiarso mengungkapkan, hingga saat ini sebanyak 850 Kartu Mebel Jepara telah dibagikan kepada pekerja mebel dari total 1.500 kartu yang disiapkan pemerintah daerah.
Kartu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai basis data pekerja mebel, tetapi juga menjadi instrumen untuk memastikan para pekerja memperoleh perlindungan sosial yang memadai.
“Kegunaan Kartu Mebel Jepara ini untuk memastikan para pekerja tercover BPJS, baik BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan maupun jaminan hari tua. Dengan begitu mereka tidak kesulitan dan mendapatkan hak yang sama,” kata Witiarso.
Selain bidang kesehatan dan ketenagakerjaan, Kartu Mebel Jepara juga diintegrasikan dengan berbagai program pendidikan.
Pemegang kartu dan keluarganya akan diprioritaskan untuk mengakses bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Indonesia Pintar (PIP).
“Untuk jenjang SD, SMP hingga SMA, terutama bagi keluarga yang masuk kategori desil 1 dan 2, akan kami prioritaskan untuk masuk Sekolah Rakyat sehingga akses pendidikan bagi anak-anak pekerja mebel semakin terbuka,” ujarnya.
Pemkab Jepara juga tengah memperkuat kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor mebel dan ukir.
Selain menggandeng kampus-kampus di Jepara, pemerintah daerah juga mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai universitas ternama di luar daerah.
“Kami akan mengoptimalkan kerja sama dengan perguruan tinggi di Jepara maupun di luar Jepara seperti Undip, Unissula hingga UIN untuk mendukung peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan keluarga pekerja mebel,” tambahnya.
Menurut Witiarso, kemajuan industri mebel tidak hanya diukur dari nilai ekspor yang terus meningkat, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan para pekerja yang menjadi tulang punggung industri tersebut.
“Bagi saya, kemajuan industri mebel tidak hanya diukur dari nilai ekspor, tetapi juga dari kesejahteraan para pekerja yang berada di belakang setiap produk yang dihasilkan,” tegasnya.
Melalui pelatihan dan berbagai program pendukung tersebut, Pemkab Jepara berharap industri mebel dan ukir mampu terus berinovasi.
Selain itu, menjaga kualitas produk, serta memperkuat posisi Jepara sebagai pusat industri furnitur dan ukir berkelas dunia yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (Krp)






