Home » Bukan Sekadar Ilmu Tani: Indigenous Science Sedulur Sikep Ungkap Cara Mengenal Alam Semesta Lewat ‘Ngaji Rasa’
IMG-20260418-WA0018

PATI – Masyarakat Sedulur Sikep selama ini kerap mendapat stigma negatif sebagai kelompok yang keras dan sulit diatur. Namun, kunjungan ke Omah Kendeng pada 17 April 2026 justru memperlihatkan sisi lain kehidupan komunitas tersebut, yakni nilai-nilai kearifan lokal yang kuat dalam menjaga alam dan mempertahankan harmoni hidup.

Dalam kunjungan tersebut, sosok sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Sriyono, kembali menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga Pegunungan Kendeng sebagai sumber kehidupan. Dengan penuh keyakinan, ia menggambarkan kawasan tersebut sebagai wilayah yang menyimpan kekuatan alam yang harus dijaga dari ancaman keserakahan manusia.

“Nang njero Gunung Kendeng iki, Le, ono segoro. Makane Londo lan wong sing serakah ora bakal iso, ono naga sing jogo.” (Di dalam Gunung Kendeng ini, Nak, ada samudera. Makanya penjajah dan orang serakah tidak akan bisa [menguasai], ada naga yang menjaga).

 

Naga, Akuifer, dan Sains yang Tak Terlihat “Naga” bagi Mbah Sriyono bukanlah sekadar mitos, melainkan representasi dari aliran air bawah tanah yang menghidupi ribuan nyawa. Secara ilmiah (Geologi), Pegunungan Kendeng adalah kawasan karst yang berfungsi sebagai akuifer alami.

Berbeda dengan industrialisme yang memandang karst sebagai resource pasif, hanya tumpukan batu gamping yang siap diekstraksi menjadi semen, Indigenous Science Sedulur Sikep memandangnya sebagai sistem kehidupan.

Penambangan bukan hanya soal hilangnya batu, tapi rusaknya rahim air yang mengairi sawah-sawah petani. Di sini, pertempuran bukan hanya soal lapangan kerja, tapi soal kelestarian agraria (sustainable agrarian).

Tanah Bukan Barang Dagangan Bagi Sedulur Sikep, bertani bukan sekadar profesi, melainkan identitas spiritual. Mereka adalah pengikut Samin Surosentiko (Raden Kohar), pangeran dari Keraton Solo yang menanggalkan gelar kebangsawanannya untuk melawan pajak Belanda. Mengapa melawan? Karena bagi Samin, tanah adalah pemberian Tuhan, dan manusia tidak berhak memajaki pemberian Sang Pencipta.

Mereka menyebut tanah sebagai “Ibu Bumi”. Bumi dianggap sebagai rahim yang memberi kehidupan. Secara etis, seorang anak tidak akan tega menyakiti, merusak, apalagi menjual ibunya demi keuntungan sesaat. Inilah dasar agraria yang membuat mereka teguh: mencabut lahan pertanian berarti mencabut akar kemanusiaan mereka.

Ngaji Rasa: Belajar Menjadi Manusia “Manusia itu manunggaling roso (manungso),” ujar Mbah Sriyono. Baginya, manusia sejatinya tidak rasional dalam artian dingin dan kaku, melainkan makhluk yang mengutamakan rasa.

Mbah Sriyono mengajarkan konsep “Ngaji Rasa”. Belajar bukan dari buku, tapi dari perjalanan dan tubuh sendiri.

Rasa Internal: Memahami denyut nadi dan kejujuran nurani. Rasa Eksternal: Merasakan kesakitan alam dan makhluk hidup lain. Dari sini lahir prinsip Asmaradana—kasih dan memberi. Di dunia industri, memberi berarti mengurangi. Namun dalam jiwa Sedulur Sikep, memberi justru menjadikan kaya. Itulah inti dari “Ana Ira, Ana Ingsun” (Ada kamu, ada aku). Sebuah penghormatan bahwa kita tidak pernah sendiri di semesta ini.

Takut kepada Diri Sendiri Di akhir pertemuan, Mbah Sriyono memberikan pesan yang menohok. Alih-alih menyuruh saya takut pada Tuhan atau hukum negara, ia berujar: “Takutlah kepada dirimu sendiri.”
Takut kepada diri sendiri berarti menjaga jiwa dari racun maksiat: mencuri, membunuh, atau melukai. Namun, jika hak alam yang diinjak, maka wajib hukumnya untuk diperjuangkan. Karena pada akhirnya, manusia yang membutuhkan alam, bukan alam yang membutuhkan manusia.

Mengenal diri sendiri adalah pintu untuk mengenal hal yang kosmik. Sebuah sains pribumi yang sederhana namun mematikan bagi keserakahan.
Sayang wenang sayang wening, sayang tunggal.” (Kasih itu berkuasa, kasih itu bening, kasih itu menyatu).

Arya Aminullah