Home » Wilayah Pati Dikepung Ancaman Leptospirosis, Warga Bumi Mina Tani Diimbau Waspada
IMG-20260628-WA0013

Warga yang tinggal di sekitar tambak dan lahan pertanian rawan tertukar bakteri leptospirosis (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Pati– Kasus Leptospirosis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan di Kabupaten Pati. Sepanjang tahun 2022, tercatat sebanyak 7 kasus, dan meningkat menjadi 22 kasus pada tahun 2023.

 

Karena penyebarannya mengkhawatirkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mengimbau masyarakat waspad terhadap leptospirosis, penyakit yang ditularkan melalui bakteri Leptospira dari urine tikus.

 

“Kasus leptospirosis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan, ” ujar Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, Yanti Purnomo pada Sabtu (28/6/2026).

 

Pemukiman yang kerap terendam banjir juga rawan penyebaran bakteri leptospirosis. (kanalmuria)

 

Peningkatan kasus leptospirosis sejak tahun 2022 hingga 2023, juga meningkat drastis menjadi 61 kasus pada tahun 2025. Bahkan sejak Januari hingga Mei 2026, sudah 172 kasus di Kabupaten Pati.

 

Menurut Yanti, kasus leptospirosis biasanya meningkat pada awal tahun bersamaan saat musim penghujan.

 

“Wilayah Kabupaten Pati sebagai daerah pertanian, memiliki kelompok masyarakat yang cukup rentan, terutama petani, nelayan, dan pekerja tambak yang sering bersentuhan dengan lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus,” terang Yanti.

 

Yanti menjelaskan, penularan leptospirosis dapat terjadi ketika bakteri masuk melalui luka terbuka yang terkontaminasi air atau tanah bekas urine tikus.

 

“Bahkan, penularan juga bisa terjadi melalui makanan dan minuman yang terkena urine tikus, ” tukasnya.

 

Yanti menyebut bahwa di wilayah Semarang pernah ditemukan kasus yang diduga berasal dari kaleng minuman. Diduga kaleng yang terkena urine tikus dan tidak dicuci terlebih dahulu, sebelum dikonsumsi.

 

Berdasarkan catatan Dinkes Kabupaten Pati, angka kematian akibat leptospirosis  masih menjadi perhatian. Pada tahun 2025, tercatat 17 kematian akibat penyakit tersebut. Kemudian pada tahun 2026 hingga saat ini, telah ditemukan 21 kasus.

 

Gejala leptospirosis umumnya berupa demam, mual, muntah, keluhan yang menyerupai flu, demam berdarah, dan tifus. Namun terdapat gejala khas berupa nyeri atau kekakuan pada otot betis serta mata merah atau kekuningan.

 

“Kalau sudah berat biasanya produksi urine berkurang karena ginjal mulai mengalami gangguan. Karena itu masyarakat yang mengalami gejala tersebut segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

 

Untuk menekan angka kasus dan kematian, Dinkes Kabupaten Pati terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain itu, melibatkan pemerintah desa, kecamatan, dan puskesmas.

 

Pihaknya juga melakukan deteksi dini terhadap kasus suspek leptospirosis juga terus diperkuat agar pasien dapat segera mendapatkan pengobatan yang tepat.

 

Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri saat bekerja di sawah maupun tambak. Selain itu, mencuci tangan sebelum makan, membersihkan luka yang terkena air sawah, serta menyimpan makanan dan minuman di tempat tertutup.

 

“Kematian akibat leptospirosis sebenarnya bisa dicegah apabila penderita mendapatkan penanganan secara dini dan sesuai standar. Karena itu jangan menunggu kondisi parah untuk berobat,” tegasnya.

 

Selain menjaga kebersihan lingkungan, Dinkes Pati juga mengimbau masyarakat melakukan pengendalian tikus secara terpadu.

 

“Tikus yang mati sebaiknya dibakar atau dikubur dengan terlebih dahulu diberikan kaporit atau disinfektan guna mencegah penyebaran penyakit, ” tambahnya. (pra)