Home » Tradisi Meron Sukolilo 2026: Warisan Budaya Pati Sarat Makna dan Sejarah
IMG-20260828-WA0012

Plt bupati pati menghadiri acara tradisi meron yang menurutnya tradisi ini merupakan bagian dari kekayaan adat dan budaya Pati (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Pati – Tradisi Meron Sukolilo kembali digelar di Kabupaten Pati Upacara adat yang berlangsung setiap tahun ini, menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain itu, wujud syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan kesehatan.

 

Rangkaian Tradisi Meron 2026 dipusatkan di halaman Masjid Baitul Yaqin, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo. Puncaknya, ribuan warga dan pengunjung turut menyaksikan arak-arakan 13 gunungan Meron pada Kamis (27/8/2026).

 

Gununjan Meron menjadi ciri khas tradisi masyarakat di kawasan Pegunungan Kendeng tersebut. Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menilai Meron bukan sekadar tradisi masyarakat Desa Sukolilo.

 

Antusian masyrakat yang menghadiri tradisi meron yang dillaksanakan di sukolilo yang menjadi bagian untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW (kanalmuria)

 

Menurutnya, Meron merupakan bagian dari kekayaan adat dan budaya Kabupaten Pati yang perlu dijaga keberlangsungannya.

 

“Acara Meron bukan hanya acara Desa Sukolilo, melainkan acara adat Kabupaten Pati yang harus kita lestarikan bersama untuk anak cucu kita,” ujarnya.

 

Ia memastikan dukungan terhadap pelaksanaan Tradisi Meron akan terus diberikan pada tahun-tahun mendatang. Selain menjaga warisan budaya, kegiatan tersebut dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM.

Antusian masyrakat yang menghadiri tradisi meron yang dillaksanakan di sukolilo yang menjadi bagian untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW (kanalmuria)

 

“Meron harus terus kita selenggarakan dengan meriah. Selain menjaga budaya, kegiatan seperti ini juga memberikan efek domino bagi masyarakat, termasuk mendorong UMKM untuk tumbuh dan berkembang,” katanya.

 

Sukolilo juga memiliki kaitan erat dengan sejarah perjalanan masyarakat Pati. Tradisi Meron berkembang bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain itu, diyakini berkaitan dengan perjalanan pasukan Mataram yang pernah singgah di wilayah tersebut.

 

“Tempat ini adalah tempat yang mulia. Dahulu para pejuang dalam pertempuran Mataram datang ke Sukolilo dan bertepatan dengan Maulid Nabi. Dari sejarah itulah kemudian lahir Tradisi Meron,” tuturnya.

 

Baca Juga: GSMS 2026 Jadi Ruang Tumbuh Talenta Seni dan Penguatan Karakter Pelajar Bumi Mina Tani

 

Pelestarian budaya, lanjutnya, perlu melibatkan generasi muda. Anak-anak dan pelajar harus diberikan kesempatan untuk mengenal seni, tradisi, serta sejarah daerah agar warisan budaya tidak terputus oleh perubahan zaman.

 

“Generasi muda harus terus kita ajak melestarikan seni dan budaya. Salah satunya melalui kegiatan GSMS yang baru saja diresmikan,” jelasnya.

 

Penguatan budaya juga dinilai membutuhkan ruang edukasi yang memadai. Salah satunya melalui museum yang dapat menjadi tempat bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah dan kekayaan budaya Pati secara lebih dekat.

 

“Seni dan budaya adalah alat pemersatu bangsa. Karena itu, tujuan kita adalah membudayakan seni di Kabupaten Pati,” tegasnya.

 

Meron dan Jejak Sejarah Mataram

 

Tradisi Meron memiliki sejarah panjang yang berkembang di Desa Sukolilo. Pada masa lalu, Sukolilo merupakan sebuah Kademangan yang berada di bawah kekuasaan Kadipaten Pati Pesantenan.

 

Sejumlah sumber sejarah masyarakat setempat menyebut tradisi ini berkaitan dengan keberadaan prajurit Mataram yang singgah di Sukolilo setelah peperangan.

 

Baca Juga: Empat Bulan Menenun Identitas Jepara, Kisah Panjang Kain Troso dari Masa ke Masa

 

Para prajurit kemudian mengingat tradisi Sekaten yang digelar di Mataram setiap 12 Maulud untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

Para prajurit tersebut kemudian meminta izin untuk menyelenggarakan perayaan serupa di Sukolilo. Izin itu akhirnya diberikan sehingga masyarakat setempat dapat menggelar tradisi tahunan yang memiliki kemiripan dengan Sekaten.

 

Namun, tradisi tersebut tidak menggunakan nama Sekaten. Masyarakat Sukolilo kemudian mengenalnya sebagai Meron dan terus melestarikannya hingga sekarang.

 

Tradisi Meron ditandai dengan arak-arakan gunungan berisi nasi tumpeng dan berbagai hasil bumi serta jajanan tradisional. Gunungan tersebut dibawa menuju masjid untuk mengikuti prosesi selamatan.

 

Arak-arakan juga dimeriahkan berbagai kesenian tradisional masyarakat setempat. Setelah prosesi doa dan selamatan selesai, isi gunungan kemudian dibagikan atau diperebutkan warga.

 

Bagi masyarakat Sukolilo, mendapatkan bagian dari Meron dipercaya membawa berkah. Tradisi tersebut sekaligus menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki, kesehatan, dan keselamatan yang diberikan.

 

Makna di Balik Gunungan Meron

 

Salah satu daya tarik utama Tradisi Meron Sukolilo adalah gunungan yang memiliki bentuk dan simbol khusus. Gunungan tersebut terbagi menjadi tiga bagian yang masing-masing memiliki makna tersendiri.

 

Bagian paling atas disebut mustaka. Bentuknya berupa lingkaran yang dihiasi bunga aneka warna dan dilengkapi simbol ayam jago atau masjid.

 

Ayam jago melambangkan semangat keprajuritan, masjid menjadi simbol semangat keislaman, sedangkan bunga menggambarkan persaudaraan.

 

Bagian kedua terdiri atas rangkaian ampyang atau kerupuk aneka warna serta kue cucur. Ampyang dimaknai sebagai tameng atau perisai prajurit, sementara cucur menjadi simbol tekad manunggal atau persatuan.

 

Bagian paling bawah disebut ancak atau penopang. Bagian ini memiliki tiga tingkatan yang masing-masing menyimbolkan iman, Islam, dan ihsan atau kebaikan.

 

Dalam Tradisi Meron 2026, sebanyak 13 gunungan dengan tinggi sekitar tiga meter diarak menuju Masjid Besar Baitul Yaqin Sukolilo. Jumlah tersebut melambangkan kepala desa beserta perangkat desa.

 

Gunungan dihiasi berbagai makanan tradisional, seperti rengginang, cucur, ampyang, hasil bumi, dan aneka jajanan. Bagian puncaknya memiliki bentuk ayam atau mahkota ayam dengan warna tertentu yang menjadi simbol bagi kepala desa dan perangkatnya.

 

Rangkaian puncak Tradisi Meron dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dengan arak-arakan gunungan di sepanjang jalur Sukolilo-Pati. Gunungan Meron dibuat dan disiapkan oleh masing-masing perangkat desa.

 

Setelah didoakan tokoh agama setempat, gunungan kemudian diperebutkan warga. Antusiasme masyarakat menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari Tradisi Meron Sukolilo setiap tahunnya.

 

Ketua Panitia Meron, Mohammad Soban Rohman, mengatakan Meron memiliki arti kemenangan. Menurutnya, puncak acara menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.

 

“Hari ini adalah acara puncak dari rangkaian acara Meron, yang sudah mulai sejak Senin kemarin dan hari ini kita akan mengiring 13 gunungan berasal dari berbagai perangkat di Desa Sukolilo,” kata Soban.

 

Ia menambahkan, Tradisi Meron merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan atas rezeki dan kesehatan.

 

Tradisi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun (pra)