
Daun tembakau dan Kretek tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Kudus. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Kudus– Kretek selama ini identik dengan industri dan produk konsumsi. Namun, sebuah diskusi akademik di Kudus membuka cara pandang lain.
Di balik proses pembuatannya, kretek menyimpan pengetahuan, keterampilan, sejarah hingga praktik sosial yang kini didorong untuk mendapat pengakuan sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar “Membaca Kembali Kretek Sebagai Bagian dari Sejarah dan Identitas Budaya Indonesia” di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (28/8/2026).

Seminar menghadirkan sejarawan Dr. Sri Margana, M.Phil. dan Dr. Edy Supratno, M.Hum. dari STAI Syekh Jangkung Pati, serta dimoderatori Budi Setiyono, S.S. dari Historia.ID.
Dr. Edy Supratno memaparkan, bahwa kretek memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Selain itu, terhubung dengan berbagai fase kehidupan masyarakat Indonesia.
Perjalanan sejarah itu mulai dari tumbuhnya pengusaha bumiputra, semangat nasionalisme, perjuangan kemerdekaan hingga perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi.
Baca Juga: Warga Nelayan TPI Pecangaan Pati Tak Lagi Kesulitan Mandi dan Buang Air Besar
“Kretek memiliki pengalaman sejarah yang terhubung dengan perjalanan masyarakat Indonesia,” ujar Edy.
Namun sejarah panjang bukan satu-satunya alasan, bahwa sebuah tradisi layak disebut warisan. Karena itu, warisan budaya harus terus hidup melalui orang-orang yang menerima dan meneruskannya.
“Warisan tidak hidup karena kita memilihnya. Warisan hidup karena ada yang mewarisinya,” tegasnya.
Menurut Edy, kekayaan kretek tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai tembakau dan cengkeh, proses blending, saus, rasa dan kualitas.
Pengetahuan itu kemudian diterjemahkan menjadi keterampilan memilih bahan, mengolah, mencampur, melinting hingga mbatil.
Yang menarik, kretek juga ditempatkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Praktik tingwe, hajatan, kenduri dan srawung,.menjadi bagian dari konteks budaya yang membuat keberadaan kretek memiliki makna lebih luas daripada sekadar sebuah produk.
“Yang diwariskan bukan hanya cara membuat kretek,” menjadi salah satu poin penting dalam paparan tersebut. Pelestarian kretek juga berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, praktik sosial dan makna yang membuatnya terus hidup di tengah masyarakat.
Baca Juga: Empat Bulan Menenun Identitas Jepara, Kisah Panjang Kain Troso dari Masa ke Masa
Pandangan itu kemudian sejalan dengan rekomendasi hasil Focus Group Discussion (FGD) Kretek: Jejak Sejarah dan Warisan Budaya Indonesia.
Salah satu rekomendasi utamanya, menempatkan kretek sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya Kabupaten Kudus. Serta bagian dari khazanah budaya Indonesia.
FGD juga mendorong langkah lebih jauh, yakni pengajuan Kretek Kudus sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).
Pengajuan tersebut diharapkan diperkuat melalui naskah akademik, dokumentasi, video dan data pendukung. Termasuk pelestarian berbagai pengetahuan tradisional yang berkembang dalam komunitas kretek.
Upaya pelestarian itu, menurut rekomendasi FGD, juga harus menyentuh seluruh ekosistem. Buruh, petani tembakau dan cengkeh, pelaku industri, keluarga hingga komunitas menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan tradisi tersebut.
“Industri memiliki kapasitas mengembangkan pengetahuan, sementara masyarakat memiliki kapasitas menghidupkan praktik,” sebagaimana dijelaskan dalam materi yang dipaparkan Edy.
Karena itu, sinergi antara masyarakat, pemerintah dan pelaku industri menjadi salah satu rekomendasi penting untuk menjaga keberlanjutan budaya kretek. Pelestarian diharapkan berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan pekerja, keberlanjutan petani, lingkungan dan aspek kesehatan.
Yang juga menjadi catatan penting, dorongan menjadikan kretek sebagai warisan budaya tidak dimaksudkan sebagai promosi atau kampanye konsumsi rokok.
Pengakuan tersebut diarahkan pada perlindungan nilai sejarah, pengetahuan, keterampilan, tradisi dan kehidupan sosial yang berkembang di dalamnya.
Dari Kudus, upaya membaca kembali kretek kini membawa pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sebuah tradisi dengan sejarah panjang dapat terus hidup di tengah perubahan zaman?
Jawabannya, setidaknya tergambar dalam pesan yang mengemuka dalam seminar tersebut. Sebuah warisan tidak cukup hanya dikenang. Ia harus terus dipraktikkan, dimaknai dan diwariskan.
Ketika masih ada yang menjaga pengetahuan dan keterampilannya, kretek tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan budaya yang hidup. (pra)






