
Kantor Asprov PSSI Jateng di Kompleks Stadion Jatidiri Kota Semarang. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Semarang – Suasana ketegangan yang sempat mewarnai laga babak penyisihan Piala Soeratin U-17 Zona Jawa Tengah antara BJL 2000 FC Semarang dan Universitas Safin Pati FC akhirnya terselesaikan dengan solusi melegakan.
Panitia Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Tengah resmi menjatuhkan sanksi kepada empat pemain yang terlibat dalam insiden tersebut. Tiga pemain BJL 2000 FC Semarang dijatuhi sanksi disiplin, karena dinilai terlibat dalam kericuhan.
Lakeisha Rafie Ahza asal BJL 2000 FC, mendapat hukuman skorsing satu pertandingan. Ia dinilai melakukan tindakan kekerasan berupa menendang pemain USP hingga memicu kericuhan di lapangan.

Sementara itu, Ryu Tanaka Prasetya dijatuhi hukuman tambahan berupa skorsing satu pertandingan. Selain itu, dikenai denda Rp1 juta, setelah dinyatakan terbukti melakukan provokasi dan tindakan kekerasan berupa mendorong pemain USP.
Adapun pemain BJL 2000 FC lainnya yakni Rafli Farhaditya, juga dikenai hukuman skorsing satu pertandingan. Pemain itu terbukti melakukan provokasi, serta tindakan mendorong pemain USP FC hingga memperkeruh situasi pertandingan.
Selain memberikan sanksi ketiga pemain BJL FC 2000, Panitia Disiplin PSSI Jawa Tengah juga menjatuhkan sanksi kepada salah satu pemain USP FC, Salfin Putra Faisal Elias.
Baca Juga: Manajemen Safin Pati Temui Rama Jangkar di Semarang
Faisal mendapat hukuman berupa larangan beraktivitas di sepak bola selama lima tahun. Keputusan tersebut tertuang dalam Putusan Panitia Disiplin PSSI Jawa Tengah Nomor 01/PD-SOERATIN.JTG/PSSI.JTG/VII/2026.
Keputusan Komdis Asprov PSSI Jateng yang ditetapkan pada 28 Juli 2026 itu, setelah Komdis melakukan pemeriksaan terhadap laporan perangkat pertandingan dan sejumlah alat bukti.
Plt Sekretaris Asprov PSSI Jawa Tengah, Purwidyastanto menegaskan, seluruh keputusan yang dijatuhkan merupakan hasil proses pemeriksaan yang dilakukan secara menyeluruh dan mengacu pada regulasi yang berlaku.
Putusan dari badan yang memiliki kewenangan dalam penegakan disiplin, kata Anto, telah ditetapkan atas pelanggaran disiplin pada pertandingan yang melibatkan Tim USP dan BJL 2000 Semarang beberapa hari yang lalu.
“Tentu bersama-sama kita harus menghormati keputusan tersebut yang ditetapkan berdasarkan kajian-kajian yang ada,” ujar Purwidyastanto.
Sebelum menjatuhkan sanksi, Panitia Disiplin memeriksa laporan pengawas pertandingan, laporan wasit dan meminta keterangan perangkat pertandingan. Selain itu, venue coordinator, hingga menggelar persidangan khusus.
“Seluruh proses mengacu pada Kode Disiplin PSSI Tahun 2025 dan Regulasi Kompetisi Piala Soeratin Jawa Tengah 2026,” terang Anto kepada wartawan.
Insiden yang berujung sanksi itu terjadi saat pertandingan babak penyisihan Piala Soeratin U-17 Jawa Tengah, antara BJL 2000 FC Semarang U-17 menghadapi USP FC U-17 di Lapangan Gelora Soekarno Kabupaten Pati, pada 27 Juli 2026.
Dalam putusannya, Komdis PSSI Jawa Tengah menyatakan Salfin Putra Faisal Elias terbukti melakukan pelanggaran. Selain itu, melakukan tendangan yang menyebabkan salah satu pemain BJL 2000 FC Semarang cedera.
Atas pelanggaran tersebut, Salfin dijatuhi hukuman larangan mengikuti seluruh aktivitas sepak bola di bawah naungan PSSI selama lima tahun, serta denda sebesar Rp5 juta.
Komdis menyatakan putusan tersebut bersifat final sesuai Pasal 117 Kode Disiplin PSSI Tahun 2025 dan tidak dapat diajukan banding.
Di luar keputusan Panitia Disiplin PSSI Jawa Tengah, manajemen SPSS mengambil langkah internal yang lebih tegas terhadap Salfin Putra Faisal Elias.
Akademi tersebut memutuskan mengakhiri status pemain yang bersangkutan. Selanjutnya manajemen dan mengembalikannya kepada orang tua.
SPSS juga menyatakan komitmennya untuk membantu biaya pengobatan pemain BJL 2000 FC Semarang yang mengalami cedera. Langkah itu sebagai bentuk tanggung jawab moral atas insiden yang terjadi.
Baca Juga: Trans Jateng Tambah Koridor Baru, Rute Jepara Kudus dan Pati Beroperasi 2028
CEO SPSS Rafi Rizqullah Arifin mengaku menghormati keputusan Panitia Disiplin PSSI Jawa Tengah. Terlepas dari beratnya sanksi yang dijatuhkan, pihak SPSS berharap kejadian ini menjadi momentum pembelajaran yang sangat berharga.
“Yakni bagi pemain yang bersangkutan untuk memperbaiki diri dan kembali menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan, ” ujar Rafi.
Insiden tersebut sebagai pelajaran untuk menjunjung tinggi sportivitas dan fair play. Serta menjaga keselamatan seluruh pemain selama kompetisi berlangsung. (pra)








