
Alun alun Kembangjoyo Pati siap direnovasi dan dikembangkan menjadi pusat keramaian. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Pati – Kisah Ki Ageng Penjawi dan Mbah Wasis Joyokusumo kembali diangkat sebagai pengingat akan jejak leluhur Pati. Melalui kisah perjuangan dan keteladanan para tokoh tersebut, masyarakat diajak mengenal sejarah daerah dan mewarisi semangat untuk menjaga dan membangun Pati.
Pesan itu disampaikan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra, saat menghadiri Pagelaran Sandiwara Kethoprak “Kridho Carito” di Alun-Alun Kembangjoyo, Senin malam (31/8/2026).
Pagelaran tersebut mengangkat kisah sejarah dan tokoh leluhur Pati. Chandra menilai sejarah lokal penting terus dikenalkan, terutama kepada generasi muda, agar mereka memahami akar sejarah daerah serta mengambil nilai keteladanan dari para pendahulunya.

Kisah para leluhur tidak semestinya berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai perjuangan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap daerah dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam membangun Pati di masa sekarang.
Joyokusumo dan Jejak Sejarah Pati
Kisah Mbah Wasis Joyokusumo menjadi salah satu bagian penting yang disinggung dalam kesempatan tersebut. Nama Joyokusumo dinilai memiliki nilai sejarah yang kuat dan layak terus dikenalkan sebagai bagian dari identitas Pati.
Baca Juga: Senyum Bahagia 830 Mahasiswa Penerima Beasiswa Kartu Sarjana Rp 2,49 Miliar
Pengabadian nama tokoh leluhur dalam ruang publik, juga dapat menjadi cara untuk menjaga ingatan sejarah masyarakat. Nama tersebut tidak sekadar menjadi penanda tempat, namun sekaligus pengingat mengenai perjalanan panjang dan akar sejarah Kabupaten Pati.
Semangat mengenalkan kembali nama dan kisah leluhur itu, dapat berjalan seiring dengan pengembangan Alun-Alun Kembangjoyo. Yakni sebagai ruang publik yang memiliki identitas sejarah dan budaya.
Alun-Alun Kembangjoyo Direnovasi
Pemerintah Kabupaten Pati telah mengusulkan anggaran kepada pemerintah pusat untuk merenovasi Alun-Alun Kembangjoyo.
Renovasi tersebut diharapkan membuat kawasan itu semakin representatif, sebagai ruang berkumpul masyarakat. Dengan area yang masih luas, Alun-Alun Kembangjoyo dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik alternatif bagi warga Pati.
Baca Juga: Kekosongan Ratusan Jabatan Kepala Sekolah di Jepara Terisi, Mulai dari TK Hingga SMP
“Semoga anggaran dari pemerintah pusat bisa terealisasi untuk kita bisa melaksanakan pembangunan Alun-Alun Kembangjoyo dengan lebih megah,” kata Chandra.
Menurutnya, pengembangan alun-alun bukan hanya menyangkut pembangunan fisik. Kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang yang hidup, tempat masyarakat berinteraksi dan menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi daerah.
Untuk menghidupkan kawasan tersebut, Pemkab Pati juga berencana menghadirkan kegiatan Car Free Night di Alun-Alun Kembangjoyo.
“Car Free Night itu tidak hanya nanti kami laksanakan di Jalan Sudirman. Nanti juga akan kami laksanakan di Alun-Alun Kembangjoyo,” ujar Chandra.
Menurutnya, semakin aktifnya ruang publik akan memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk para pedagang kaki lima (PKL). Aktivitas warga yang meningkat diharapkan turut membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
“Alun-alun tercinta ini selalu kita banggakan, selalu kita harapkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat Kabupaten Pati,” katanya.
Ajak Warga Jaga Pati Kondusif
Di tengah rencana pengembangan kawasan dan penguatan ekonomi masyarakat, Chandra juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan serta kondusivitas Kabupaten Pati.
Suasana yang aman, tenteram dan damai, kata dia, menjadi fondasi penting agar pembangunan dan aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan baik.
“Kalau Pati ini aman, Pati ini tenteram, Pati ini damai, tentunya negara kita juga akan damai dan tenteram,” kata Chandra.
Ia juga mengapresiasi para PKL yang terus berupaya menjalankan aktivitas usaha secara tertib. Chandra berharap komunikasi antara pemerintah dan para pelaku PKL tetap terjaga sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat diselesaikan secara bersama.
“Mari kita sama-sama bergandeng tangan untuk menciptakan kondusivitas Kabupaten Pati,” ujarnya.
Sementara itu, pagelaran “Krido Carito” menjadi salah satu cara menghadirkan kembali sejarah lokal melalui seni tradisi. Kisah Ki Ageng Penjawi dan Joyokusumo tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya mengenal dan menghargai leluhur.
Pengabadian nama Joyokusumo sebagai bagian dari identitas ruang publik, dapat menjadi simbol bahwa pembangunan Pati hari ini tetap berpijak pada sejarah dan jasa para leluhur.
Melalui sejarah, seni, dan ruang publik, kisah Ki Ageng Penjawi dan Joyokusumo diharapkan terus hidup dari generasi ke generasi. Bukan sekadar dikenang sebagai bagian dari masa lalu saja. Namun menjadi teladan untuk bersama-sama membangun Pati yang aman, damai, dan sejahtera. (pra)






