Home » Alasan Java United Pindah dari Ternate ke Semarang, Akademi Benfica Tetap Jalan
IMG-20260912-WA0042

Malut United FC dan SL Benfica dirikan Akademi Merah Putih di Ternate pada 15 Mei 2026 (Doc.Malut United Official).

Kanalmuria.com, Semarang – Manajemen Java United mengungkap alasan klub meninggalkan Ternate dan menjadikan Semarang sebagai markas baru untuk mengarungi kompetisi Super League 2026-2027.

 

Klub tersebut juga menegaskan komitmennya terhadap pengembangan sepak bola usia dini, melalui Akademi Merah Putih yang bekerja sama dengan raksasa Portugal, SL Benfica.

 

Java United sebelumnya dikenal sebagai Malut United. Klub tersebut memutuskan memindahkan home base dari Stadion Kie Raha, Ternate, ke Stadion Jatidiri, Semarang, untuk musim Super League 2026-2027.

 

Keputusan tersebut menarik perhatian, karena Malut United telah berdiri dan bermarkas di Ternate, Maluku Utara, sejak didirikan pada 2023.

 

Baca Juga: Bukan Sekadar Tambah Mahasiswa, Universitas Safin Pati Tantang 511 Maba Jadi Generasi Berkualitas

 

Dalam perjalanan dua musim awal, identitas klub juga mulai melekat dengan masyarakat Maluku Utara. Malut United turut mendatangkan sejumlah pemain asal kawasan Timur Indonesia, seperti Manahati Lestusen, Yakob Sayuri, dan Yance Sayuri.

 

Selain itu, klub juga pernah ditangani pelatih asal Maluku Utara, Imran Nahumarury. Ikatan Malut United dengan wilayah Timur Indonesia semakin diperkuat dengan hadirnya Akademi Merah Putih yang resmi diperkenalkan pada Mei 2026.

 

Akademi sepak bola tersebut memiliki fokus khusus pada pembinaan anak-anak usia 7-9 tahun, terutama mereka yang berstatus yatim atau piatu dan berasal dari keluarga kurang mampu di Maluku Utara, Maluku, hingga Papua.

 

Manajemen klub menegaskan bahwa pendirian Akademi Merah Putih bukan berorientasi pada kepentingan bisnis. Akademi tersebut dibangun sebagai bentuk kontribusi sosial, sekaligus upaya membantu pengembangan sepak bola usia dini di kawasan Timur Indonesia.

 

Kepindahan Malut United ke Semarang dan perubahan nama menjadi Java United, sempat menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan program Akademi Merah Putih di Ternate.

 

Komitmen untuk Indonesia Timur

 

Menanggapi hal tersebut, manajemen Java United melalui Wakil Presiden Klub, Weshley Hutagalung, menegaskan bahwa perpindahan markas tidak mengubah komitmen klub terhadap pengembangan sepak bola di kawasan Timur Indonesia.

 

“Nazar pemilik klub adalah membantu pengembangan sepak bola sejak usia dini di Maluku Utara dengan juga melibatkan anak-anak di Maluku, dan melihat mereka mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional,” ujar Weshley, dikutip dari Kompas.com, Jumat (11/9/2026).

 

Weshley menjelaskan, bahwa peserta Akademi Merah Putih ditujukan bagi anak laki-laki yatim dan piatu berusia 7-9 tahun. Mereka juga harus berasal dari keluarga kurang mampu. Seluruh biaya kegiatan akademi akan ditanggung oleh manajemen.

 

Program pembinaan tersebut dijalankan dengan menggandeng SL Benfica, klub asal Portugal yang dikenal memiliki sistem pengembangan pemain usia muda.

 

Kerja sama dengan Benfica diharapkan dapat membuka peluang bagi talenta-talenta muda Indonesia untuk mendapatkan pembinaan yang lebih baik dan memiliki kesempatan tampil di level internasional.

 

“Potensi anak Indonesia bisa berbicara di sepak bola internasional,” kata Weshley.

 

Ia menambahkan, jumlah peserta Akademi Merah Putih bahkan diproyeksikan meningkat menjadi 150-200 anak. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan rencana awal yang hanya menargetkan sekitar 70 peserta.

 

Untuk mendukung program tersebut, Java United tetap akan menggunakan mess pemain dan fasilitas latihan yang berada di Ternate. Training ground yang sebelumnya dibangun untuk kebutuhan tim senior Malut United akan dimanfaatkan sebagai pusat pembinaan Akademi Merah Putih.

 

Dengan demikian, fasilitas tersebut diharapkan menjadi tempat menempa talenta-talenta muda dari Indonesia Timur agar mampu berkembang dan suatu saat tampil di panggung sepak bola internasional.

 

Sementara itu, tim senior yang sebelumnya bernama Malut United diputuskan pindah markas ke Semarang dan menggunakan nama baru, Java United.

 

“Dengan misi yang sama, klub ini akan terlibat dalam pengembangan sepak bola Indonesia dan ikut membantu membangun kekuatan sepak bola di Jawa Tengah,” tutur Weshley.

 

Bantah Terafiliasi Grup Djarum

 

Di sisi lain, perubahan nama dan perpindahan markas Java United juga memunculkan isu lain. Media sosial sempat ramai dengan rumor yang mengaitkan klub tersebut dengan Grup Djarum.

 

Rumor tersebut mencuat setelah Java United menjalani laga pekan pertama Super League melawan Garudayaksa. Dalam pertandingan tersebut, logo Polytron terlihat sebagai salah satu sponsor utama di jersey klub yang sebelumnya bernama Malut United.

 

Polytron diketahui merupakan salah satu perusahaan yang berada di bawah Grup Djarum. Keterlibatan Grup Djarum di sepak bola juga menjadi sorotan karena perusahaan tersebut memiliki keterkaitan dengan Como 1907 yang berkompetisi di Liga Italia.

 

Kondisi tersebut kemudian memunculkan spekulasi bahwa Java United akan menjadi “tim pilot” Grup Djarum di kompetisi sepak bola Indonesia. Terlebih, Java United baru saja memindahkan markas dari Ternate ke Semarang pada jeda musim.

 

Baca Juga: Hadapi KLB Keracunan MBG, 50 Ambulans di Pati Ditempa Hadapi Situasi Darurat

 

Namun, rumor tersebut dibantah secara tegas oleh manajemen Java United.

 

“Walau berganti nama dan lokasi, kepemilikan Java United tidak berubah sejak awal pendirian klub,” ujar Weshley Hutagalung pada Jumat (11/9/2026) malam WIB.

 

Weshley menegaskan bahwa perubahan nama dari Malut United menjadi Java United serta kepindahan markas ke Semarang tidak memiliki kaitan dengan Grup Djarum.

 

Logo Polytron Murni Sponsorship

 

Terkait kehadiran logo Polytron di jersey Java United saat menghadapi Garudayaksa, Weshley menjelaskan bahwa kerja sama tersebut murni berkaitan dengan kepentingan komersial dan sponsorship.

 

“Logo Polytron di jersey Java United murni terkait bisnis marketing dan sponsorship seperti halnya logo-logo perusahaan lain di jersey,” tuturnya.

 

Menurut Weshley, kerja sama tersebut merupakan hasil kerja tim konsultan bisnis Java United yang menjalin hubungan dengan sejumlah pihak, termasuk Polytron.

 

Dengan demikian, keterlibatan Polytron dalam aktivitas komersial Java United tidak berkaitan dengan kepemilikan klub.

 

“Kalau disebut muncul tiba-tiba, karena memang kesepakatan antara konsultan Java United dan pihak Polytron baru terjadi menjelang pembukaan kompetisi,” pungkas Weshley.

 

Dengan kepindahan ke Semarang, Java United kini memiliki misi ganda. Di satu sisi, klub akan membangun kekuatan baru di Jawa Tengah untuk bersaing di Super League 2026-2027.

 

Di sisi lain, komitmen terhadap pembinaan talenta muda di Indonesia Timur tetap dijalankan melalui Akademi Merah Putih yang berbasis di Ternate. (pra)