Home » Rekor MURI Kembali Dibidik, Rembang Pamerkan Lukisan Garam Seluas 1.880 Meter Persegi
IMG-20261019-WA0029

Lukisan garam raksasa 1.880 meter di Rembang habiskan 9 ton garam (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Rembang – Sebanyak 9 ton garam disulap menjadi lukisan raksasa seluas 1.880 meter persegi di hamparan tambak Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

 

Membentang di sekitar 11 petak tambak, karya monumental ini bukan sekadar pemandangan unik. Melainkan gambaran kehidupan petani garam, kekayaan laut, dan hubungan manusia dengan alam yang diwariskan turun-temurun.

 

Lukisan garam tersebut menjadi daya tarik utama Festival Garam Tahun 2026,yang mengusung tema Memetri Kawitane Uyah. Karya ini melibatkan seniman dari berbagai daerah bersama petani garam setempat.

 

Puluhan seniman berkolaborasi hadirkan lukisan raksasa berbahan garam di area tambak. (kanalmuria)

 

Lukisan tersebut untuk menerjemahkan cerita masyarakat pesisir ke dalam sebuah karya seni berskala besar. Festival Garam 2026 dibuka pada Sabtu (17/10/2026) dan berakhir hingga Senin (19/10/2026).

 

Pembukaan festival berlangsung meriah dengan kirab budaya dan penampilan kesenian Barongan Gembong Condro Mowo dari Pamotan.

 

Sejumlah pejabat dari DPR RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang turut menghadiri acara tersebut.

 

Baca Juga: Kekeringan di Pati Meluas, 45 Ribu Warga Terdampak Krisis Air Bersih

 

Kehadiran lukisan garam berukuran raksasa menjadi penanda penting penyelenggaraan festival tahun ini. Desa Dasun sebelumnya mencuri perhatian pada 2023 melalui karya Bancaan Rupa yang mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai lukisan garam terbesar di dunia.

 

Pada penyelenggaraan keempat ini, tradisi berkarya menggunakan garam kembali dihidupkan dengan konsep yang lebih mendalam.

 

Lukisan tidak hanya menonjolkan ukuran, tetapi juga membawa cerita tentang kehidupan petani, hasil laut dan ekosistem yang menopang penghidupan masyarakat pesisir.

 

Gambarkan Kehidupan Petani Garam

 

Kurator Festival Garam, Eggy Yunaedi, menjelaskan, bahwa konsep lukisan lahir dari proses kolaborasi antara seniman dan masyarakat Desa Dasun.

 

Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman, cerita, hingga keluh kesah petani garam yang selama ini bergelut dengan alam untuk menghasilkan komoditas penting bagi kehidupan sehari-hari.

 

Salah satu tokoh yang turut menyumbangkan pemikiran pada tahap awal perancangan adalah almarhum Nasirun. Sebelum meninggal dunia, ia sempat mendengarkan dan mencatat berbagai cerita masyarakat petani garam Dasun.

 

Catatan tersebut kemudian menjadi pijakan untuk mengembangkan konsep visual lukisan. Salah satu elemen utamanya, adalah sesaji yang melambangkan rasa syukur. Kemudian dikelilingi beragam hasil laut seperti ikan, kepiting, dan cumi-cumi.

 

Komposisi lukisan juga memuat unsur pendukung ekosistem pesisir, termasuk plankton dan hutan mangrove. Berbagai simbol itu menggambarkan keterkaitan antara alam, hasil laut, dan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada produksi garam.

 

Menurut Eggy, garam memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar komoditas ekonomi. Di balik proses produksinya, tersimpan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi, mulai dari mengelola air hingga membaca perubahan cuaca.

 

Karena itu, lukisan tersebut diharapkan mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam sekaligus menghargai kerja keras petani garam.

 

Setelah Nasirun meninggal dunia, gagasan tersebut tetap dilanjutkan. Sebanyak 10 seniman dari Jakarta, Jatiwangi, Yogyakarta, Pati, Jepara, dan Kediri bergotong royong mewujudkan konsep lukisan setelah lolos seleksi program residensi melalui mekanisme open call.

 

Baca Juga: Kasus Narkoba di Jepara Meroket, Anak di Bawah Umur Dilibatkan Jadi Kurir Sabu.

 

Mewujudkan lukisan seluas 1.880 meter persegi bukan perkara mudah. Para seniman harus menyesuaikan teknik melukis dengan kondisi tambak yang membentang luas, berbeda dari bidang lukis konvensional maupun dinding mural

 

Eggy mengungkapkan, proses pengerjaan membutuhkan persiapan matang. Tambak terlebih dahulu dikeringkan selama lima hari sebelum para seniman mulai bekerja.

 

Proses melukis berlangsung efektif sekitar 3,5 hari. Dari total 10 ton garam yang disiapkan, sekitar 8–9 ton digunakan untuk membentuk komposisi lukisan raksasa tersebut.

 

Tantangan terbesar muncul ketika para seniman harus menjaga proporsi dan perspektif gambar. Bentang tambak yang luas membuat sejumlah bagian lukisan, seperti kepala dan ekor ikan, terpisah dalam jarak cukup jauh.

 

Kondisi itu menyulitkan seniman untuk melihat keseluruhan gambar dari jarak dekat. Mereka harus menyesuaikan sudut pandang agar setiap elemen tetap sesuai dengan rancangan awal.

 

“Medannya sangat luas, sehingga pelukis sempat kesulitan melihat keseluruhan gambar dari dekat. Mereka harus menyesuaikan perspektif agar bentuk yang dibuat tetap sesuai dengan rancangan,” ujar Eggy

 

Meski menghadapi kendala teknis, kolaborasi antara seniman dan petani garam membuat karya tersebut dapat diselesaikan.

 

Proses ini sekaligus menunjukkan bahwa tambak tidak hanya menjadi ruang produksi ekonomi, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang ekspresi seni dan budaya.

 

Angkat Identitas Desa Dasun

 

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan Festival Garam 2026.

 

Menurut dia, festival tersebut merupakan bagian dari upaya panjang untuk mengangkat garam sebagai identitas sekaligus sumber penghidupan masyarakat setempat.

 

Perjalanan pengembangan budaya Desa Dasun telah berlangsung selama beberapa tahun. Pada 2023, desa ini menggelar Bancaan Rupa yang berkaitan dengan pencapaian rekor MURI melalui lukisan garam.

 

Upaya tersebut berlanjut melalui pameran di Sangkerin Art Yogyakarta. Pada 2024, karya dan aktivitas budaya Desa Dasun juga mendapat kesempatan tampil di Museum Bahari, Jakarta Utara, dalam kegiatan yang melibatkan 11 negara asing.

 

Melalui tema Memetri Kawitane Uyah, Sujarwo berharap Festival Garam tidak berhenti sebagai perhelatan budaya tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat, terutama generasi muda, tentang proses terbentuknya garam dan peran pentingnya dalam kehidupan.

 

Menurut Sujarwo, garam yang selama ini dianggap sebagai komoditas sederhana sesungguhnya dihasilkan melalui proses alam yang panjang dan melibatkan berbagai unsur kehidupan.

 

“Melalui tema Memetri Kawitane Uyah, kami ingin memberikan pemahaman kepada khalayak, khususnya generasi muda, bahwa garam tidak boleh dipandang sebelah mata.

 

Garam tercipta dari proses luar biasa yang melibatkan empat elemen alam dan menyokong kehidupan kita,” pungkasnya. (pra)

1 thought on “Rekor MURI Kembali Dibidik, Rembang Pamerkan Lukisan Garam Seluas 1.880 Meter Persegi”

Comments are closed.