
Warga Mojosongo Solo alami gangguan kesehatan dampak kebakaran. (kanalmuria)
Kanalmuria.com Solo ā Asap pekat kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Kota Surakarta Jawa Tengah, mulai meninggalkan jejak di tubuh warga. Batuk, pilek, radang tenggorokan hingga sesak napas, kini menjangkiti masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi, terutama lansia, balita, dan warga dengan penyakit bawaan.
Di tengah kepungan asap yang belum sepenuhnya menghilang, ratusan warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, mendatangi posko kesehatan untuk memastikan kondisi tubuh mereka.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun bergerak cepat dengan mengerahkan tim Dokter Spesialis Keliling (Speling). Tim dokter memberikan pemeriksaan dan pengobatan kepada masyarakat terdampak.

Posko kesehatan tersebut ditempatkan di Kelurahan Mojosongo. Layanan difokuskan penanganan gangguan kesehatan yang berpotensi muncul akibat paparan asap kebakaran. Mulai dari penyakit saluran pernapasan, gangguan mata, hingga keluhan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Tim dokter spesialis yang diterjunkan berasal dari RSUD dr Moewardi Surakarta dan RSJD Arief Zainuddin Surakarta. Selain membuka layanan pemeriksaan, petugas kesehatan juga disiagakan di sekitar kawasan TPA Putri Cempo selama 24 jam.
Pembukaan posko selama 24 jam ini, untuk mengantisipasi kondisi warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Tak hanya layanan medis, warga terdampak juga mendapatkan bantuan logistik berupa makanan dan masker.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi risiko kesehatan, selama asap kebakaran masih mengancam permukiman di sekitar TPA.
Berdasarkan pantauan di Kelurahan Mojosongo pada Minggu (5/9/2026), ratusan warga memanfaatkan layanan tersebut untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr Moewardi Surakarta, Hartanto mengatakan, sejumlah warga datang dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan.
“Tadi ada beberapa yang konsultasi, mulai radang tenggorokan, batuk, dan sesak napas,” ujar Hartanto di lokasi.
Menurut dia, masyarakat yang mengalami gejala respiratorik, termasuk infeksi saluran pernapasan, akan mendapatkan penanganan awal dan pengobatan di lokasi. Namun, warga dengan kondisi yang semakin berat akan segera dirujuk ke rumah sakit.
“Apabila gejala semakin memberat, maka langsung dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.
Selain memberikan pengobatan, tim kesehatan juga mengedukasi warga mengenai langkah yang dapat dilakukan di rumah. Yakni untuk mengurangi paparan asap selama kebakaran TPA Putri Cempo masih berlangsung.
Warga diminta memperhatikan sirkulasi udara di dalam rumah. Penggunaan air purifier dapat dilakukan untuk membantu menyaring udara. Namun jika tidak tersedia, masyarakat disarankan menutup jendela dan pintu agar asap maupun debu dari luar tidak mudah masuk ke dalam rumah.
“Solusi kedua ketika keluar rumah maupun di dalam rumah juga memakai masker medis,” terangnya.
Warga Keluhkan Sesak Napas
Dampak asap kebakaran TPA Putri Cempo mulai dirasakan warga sejak hari kedua hingga hari kelima terjadinya kebakaran.
Fitri salah seorang warga Kelurahan Mojosongo, mengatakan keluhan batuk, pilek hingga sesak napas mulai bermunculan di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Fitri, keluhan sesak napas paling banyak dirasakan oleh lansia dan warga yang memiliki penyakit bawaan. Kondisi tersebut membuat warga semakin khawatir, karena kebakaran di TPA Putri Cempo belum benar-benar padam.
“Sesak napas banyak dialami oleh lansia atau warga yang memiliki penyakit bawaan. Saya sudah mengalami gejala batuk-pilek termasuk anak saya yang masih balita,” tuturnya.
Keberadaan posko kesehatan dengan dukungan dokter spesialis keliling, kata Fitri, sangat membantu masyarakat. Warga tidak perlu jauh-jauh mencari layanan kesehatan di tengah kondisi lingkungan yang masih dipenuhi dampak asap kebakaran.
Layanan serupa juga dirasakan Sunarni. Ia mengatakan keluhan sesak napas menjadi salah satu dampak kesehatan yang mulai dirasakan warga, khususnya mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan dan kelompok lanjut usia.
Sunarni berharap peristiwa kebakaran TPA Putri Cempo menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Kota Surakarta. Ia tidak ingin kejadian serupa kembali mengganggu kehidupan warga di sekitar TPA.
“Harapannya mudah-mudahan tahun depan tidak begini lagi, pengelolaan sampah juga lebih baik,” pinta perempuan warga Kelurahan Mojosongo tersebut.
Kualitas Udara Dipantau
Selain menyiagakan layanan kesehatan, pemerintah juga melakukan pemantauan terhadap kualitas udara di sekitar TPA Putri Cempo.
Kementerian Lingkungan Hidup telah menurunkan mobil pemantau kualitas udara. Mobil tersebut mengetahui kondisi udara dan mengantisipasi dampak kebakaran terhadap masyarakat.
Untuk diketahui, kebakaran TPA Putri Cempo terjadi pada Rabu (2/9/2026). Api membakar timbulan sampah yang berada di kawasan TPA tersebut.
Proses pemadaman melibatkan dinas pemadam kebakaran dari sejumlah kabupaten/kota di wilayah Soloraya. Selain itu dari Kota Semarang serta unsur TNI dan Polri.
Besarnya timbulan sampah menjadi salah satu persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan TPA Putri Cempo. Berdasarkan data Pemerintah Kota Surakarta, timbulan sampah di Kota Solo mencapai 421,48 ton per hari.
Dari jumlah tersebut, sampah yang terkelola tercatat sebanyak 49,73 ton per hari atau sekitar 11,80 persen. Sementara sampah yang belum terkelola mencapai 371,75 ton per hari atau 88,20 persen.
Baca Juga: Detik-detik Gudang SMPN 1 Undaan Kudus Terbakar, Guru Berhamburan Ambil APAR
Pemerintah juga melakukan pengelolaan sampah melalui operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), yakni dengan mengolah sampah menjadi energi listrik.
Namun, di tengah upaya tersebut, kebakaran TPA Putri Cempo kembali menunjukkan besarnya tantangan pengelolaan sampah di Kota Surakarta.
Bagi warga Mojosongo, persoalan itu kini bukan sekadar tumpukan sampah, melainkan asap yang masuk ke lingkungan tempat tinggal dan mengusik kesehatan keluarga.
Selama api dan asap belum sepenuhnya hilang, warga pun masih harus berjaga. Masker menjadi pelindung sehari-hari, sementara posko kesehatan menjadi tempat mereka mencari kepastian ketika batuk, sesak napas, atau keluhan lain mulai munculĀ (pra)






