Guru menjadi garda penting memutus stigma kusta di lingkungan pendidikan di Jepara. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Jepara – Penyakit Kusta diam-diam membayangi anak-anak di Kabupaten Jepara. Sembilan anak berusia 9 hingga 15 tahun telah teridentifikasi mengalami penyakit tersebut.
Di tengah upaya pengobatan, ancaman lain ikut menghantui: stigma dan diskriminasi. Yakni bisa membuat bangku sekolah berubah menjadi ruang yang tidak lagi ramah bagi mereka.
Karena itu, guru kini didorong menjadi garda penting memutus stigma kusta di lingkungan pendidikan di Jepara. Mereka tidak hanya dituntut memahami gejala dan pentingnya deteksi dini, tetapi juga memastikan anak yang mengalami kusta tetap dapat belajar, bersosialisasi, dan tumbuh tanpa perlakuan berbeda.

Upaya tersebut mengemuka dalam Workshop/Training of Trainers (ToT) Penghapusan Stigma Kusta, Penguatan Peran Guru dan Kampanye Percepatan Eliminasi Kusta di Indonesia, di Pendopo RA Kartini Jepara, Senin (28/9).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 kepala sekolah, wakil kepala sekolah, maupun perwakilan satuan pendidikan dari sembilan daerah di Jawa Tengah. Hadir pula Ketua Umum PGRI Prof. Dr. Unifah Rosyidi dan Program Officer Hansen’s Disease Program Sasakawa Health Foundation, Takumi Owada.
Baca Juga: Delapan Investor Bidik Pati, Komitmen Investasi di Bumi Mina Tani Tembus Rp12,6 Triliun
Pelibatan sekolah dinilai penting karena sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam lingkungan pendidikan. Pemahaman yang benar di kalangan guru diharapkan mampu mencegah ketakutan berlebihan dan menghentikan praktik diskriminasi terhadap siswa yang terinfeksi.
“Kusta bukan semata-mata persoalan kesehatan. Ada hal lain yang juga penting dan harus kita lawan, mulai dari ketakutan, stigma, ketidaktahuan, dan diskriminasi yang selama ini masih menyertai penyakit tersebut,” ujar Bupati Jepara Witiarso Utomo.
Persoalan kusta sendiri masih menjadi perhatian dunia. Data WHO yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, menunjukkan Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dengan jumlah kasus kusta terbanyak setelah India dan Brasil.
Pada 2025, Indonesia melaporkan lebih dari 16.000 kasus baru kusta. Sekitar 9,1 persen di antaranya merupakan anak-anak.
Sejumlah wilayah masih mencatat temuan kasus tinggi. Antara lain Sulawesi Utara, Papua, Maluku, dan Kalimantan Selatan. Sementara di Jawa Tengah, jumlah kasus diperkirakan mencapai sekitar 1.600 kasus.
Di Jepara, sembilan anak yang teridentifikasi mengalami kusta berada dalam rentang usia 9 hingga 15 tahun. Mereka mendapatkan pendampingan melalui layanan kesehatan.
Baca Juga: Sapi Pragolo Menggeliat di Panggung TMII, Generasi Muda Pati Menjaga Napas Tradisi
Namun, penanganan kusta tidak cukup hanya berhenti pada pemberian obat dan pemantauan kondisi medis. Dukungan lingkungan menjadi bagian penting agar anak tetap percaya diri. Selain itu, tidak kehilangan haknya mendapatkan pendidikan serta berinteraksi secara normal dengan teman-temannya.
“Sekarang kita libatkan guru-guru agar anak-anak ini bisa diterima di sekolah dan tidak mengalami diskriminasi,” katanya.
Melalui pelatihan tersebut, guru mampu menjadi penggerak edukasi kesehatan di sekolah. Informasi mengenai kusta dapat disampaikan kepada siswa, guru lain, maupun orang tua secara benar dan proporsional.
Mulai dari mengenali tanda dan gejala, mendorong pemeriksaan lebih dini, memahami penanganan komplikasi, hingga mengetahui bahwa penderita kusta membutuhkan dukungan sosial selama menjalani pengobatan.
Langkah itu penting, karena stigma sering kali muncul bukan karena penyakitnya semata, melainkan akibat kurangnya pengetahuan. Ketakutan yang tidak didasarkan pada informasi medis, dapat membuat penderita dijauhi dan bahkan mengalami diskriminasi.
“Kusta tidak hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan penderitanya, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan sosial ketika masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai penyakit tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Program Officer Hansen’s Disease Program Sasakawa Health Foundation Takumi Owada mengatakan, Jepara dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki fasilitas kesehatan yang secara khusus menangani kusta.
Menurut dia, guru mempunyai posisi strategis memperluas edukasi. Selain itu, meningkatkan kewaspadaan terhadap kusta sejak lingkungan sekolah.
Pelibatan tenaga pendidik diharapkan dapat memperkuat deteksi dini, pencegahan, penanganan komplikasi, sekaligus menghapus stigma yang masih melekat terhadap penderita.
Jika ditemukan anak dengan gejala yang mengarah pada kusta, penanganan dapat segera dilakukan melalui fasilitas kesehatan terdekat. Dengan demikian, kasus dapat ditemukan lebih cepat dan mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan.
“Kalau ada anak yang terinfeksi juga bisa ditangani langsung oleh puskesmas terdekat. Kita berharap agar angka kasus tidak ditutupi sehingga penanganan bisa lebih maksimal,” tandasnya. (pra)

1 thought on “Kusta Diam-Diam Membayangi Anak-Anak Jepara, Guru Disiapkan Putus Rantai Stigma”
Comments are closed.