Home » Ketika Godaan Finansial di Era Digital Mengincar Generasi Muda Indonesia, Ini Siasat Cerdas OJK
IMG-20260929-WA0017

Prosesi penandatanganan Nota Kesepahaman puncak ISFO 2026 di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen Jakarta. (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Jakarta, – Mengelola uang bukan lagi sekadar urusan orang dewasa. Di tengah kemudahan transaksi digital, maraknya layanan keuangan hingga beragam pilihan investasi yang semakin mudah diakses, kemampuan memahami uang dan mengambil keputusan keuangan justru perlu dibangun sejak usia sekolah.

 

Di titik inilah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong literasi keuangan syariah masuk lebih jauh ke dunia pendidikan.

 

Bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), OJK memperkuat edukasi keuangan melalui penyediaan bahan ajar. Edukasi ini dapat diakses gratis oleh murid, guru dan masyarakat melalui platform Rumah Pendidikan.

 

Mendikdasmen Abdul Muti menyambut baik kerjasama dengan OJK. (kanalmuria)

 

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada puncak Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (29/9/2026).

 

Bagi OJK, pendidikan menjadi salah satu pintu penting membangun pemahaman keuangan sejak dini. Bukan hanya mengenalkan produk dan layanan keuangan saja.

 

Namun juga membentuk cara berpikir ketika seseorang harus menentukan pilihan, menghitung risiko, menyusun rencana, dan menggunakan uang secara bertanggung jawab.

 

Baca Juga: 11 Tahun The Safin Hotel Pati, Rayakan Anniversary dengan Setetes Darah dan Sejuta Kepedulian

 

Kolaborasi OJK bersama Kemendikdasmen ini, diarahkan untuk membangun strategi besar literasi dan inklusi keuangan syariah melalui pendidikan formal.

 

“Tujuannya untuk menyusun sebuah strategi besar, bagaimana masyarakat kita sejak usia muda di pendidikan dasar menengah memahami mengenai keuangan syariah,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono.

 

Strategi tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. OJK dan Kemendikdasmen juga memperkuat bahan ajar, kurikulum serta pelatihan bagi guru.

 

Upaya ini menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya akses generasi muda terhadap layanan keuangan dan perkembangan ekosistem keuangan digital.

 

Melalui Rumah Pendidikan, bahan ajar literasi keuangan tersedia dalam bentuk perangkat ajar pada Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Sejumlah materi telah melalui kurasi Kemendikdasmen dan dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembelajaran bersama OJK.

 

Materinya pun dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada “Mengelola Keuangan Pribadi”, “Manajemen Keuangan Kegiatan Kepanitiaan”, “Lembaga Keuangan”, “Barisan dan Deret”, “Perekonomian Digital”, hingga “Analisis Data dan Peluang”.

 

Literasi keuangan dengan demikian tidak berdiri sebagai pengetahuan yang terpisah dari pelajaran sekolah. Konsep pengelolaan uang, lembaga keuangan, hingga perhitungan dan analisis data, dapat dipelajari melalui mata pelajaran Ekonomi dan Matematika, serta kegiatan kokurikuler.

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pendidikan memiliki peran penting untuk membangun pemahaman generasi muda. Sementara itu, akses terhadap berbagai layanan dan fasilitas pendukung dapat dibuka melalui kolaborasi dengan mitra strategis, termasuk OJK.

 

“Kalau tugas saya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mendidik anak-anak supaya mengerti. Tapi yang membuka berbagai akses adalah Pak Ferry dan Bapak-bapak di OJK. Inilah yang ingin kita bangun ke depan,” tegas Abdul Mu’ti.

 

Ia juga mengapresiasi kepercayaan OJK kepada Kemendikdasmen dalam pengembangan ekonomi syariah. Selain itu, penguatan literasi keuangan melalui jalur pendidikan.

 

Buku literasi keuangan syariah yang disusun OJK, kata Abdul Mu’ti, tersedia secara gratis di Rumah Pendidikan. Fasilitas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman murid saja. Namun juga mendorong produktivitas dan inklusi serta mendukung pengembangan ekonomi syariah.

 

Di sisi lain, keterlibatan dunia pendidikan dalam penguatan ekonomi syariah, juga diarahkan untuk menyiapkan generasi muda yang mampu mengambil peran lebih besar dalam aktivitas ekonomi.

 

Di sisi lain, Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES), Ferry Juliantono, melihat kolaborasi tersebut sebagai bagian menyiapkan calon wirausahawan muda. Yakni yang memahami dan mampu memanfaatkan peluang dalam ekonomi syariah.

 

“Harapannya dengan kolaborasi ini bisa menciptakan calon-calon wirausahawan muda yang nanti akan berperan besar dalam pemanfaatan dan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” tukas Ferry.

 

Semangat tersebut tercermin dalam penyelenggaraan ISFO 2026. Sebanyak 11.952 peserta yang tergabung dalam 4.030 tim, mengikuti rangkaian kegiatan dari berbagai daerah di Indonesia

 

Jumlah peserta meningkat sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah tim tumbuh sekitar 15 persen.

 

Angka itu menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai keuangan syariah dan literasi keuangan, memiliki ruang yang semakin luas di kalangan generasi muda.

 

Namun, tantangan literasi keuangan tidak berhenti pada seberapa banyak informasi yang diketahui. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi kebiasaan dan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Baca Juga: Pelajar Bawang Keracunan Akibat Santap MBG, Wapres Gibran Turun Langsung ke Batang

 

Karena itu, penguatan literasi sejak bangku sekolah diarahkan untuk membangun kemampuan murid dalam memahami pilihan dan risiko keuangan. Selanjutnya membentuk kebiasaan mengambil keputusan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

 

Bagi OJK dan Kemendikdasmen, ruang kelas menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan tersebut. Dari sana, pengetahuan tentang uang diharapkan tumbuh menjadi kecakapan hidup. Yakni bekal yang dibutuhkan generasi muda ketika kelak berhadapan dengan tabungan, investasi, pinjaman, transaksi digital, maupun berbagai keputusan ekonomi lainnya.

 

Pada akhirnya, literasi keuangan bukan semata soal bagaimana seseorang mengelola uang yang dimilikinya. Lebih jauh, literasi menjadi bekal agar generasi muda mampu memahami pilihan, membaca risiko, dan menentukan langkah secara lebih bertanggung jawab di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang bergerak semakin cepat. (pra)

1 thought on “Ketika Godaan Finansial di Era Digital Mengincar Generasi Muda Indonesia, Ini Siasat Cerdas OJK”

Comments are closed.