
Gerakan donasi buku kini digencarkan di Kabupaten Pati oleh Dinas Arpus setempat. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Pati,- Kebijakan efisiensi anggaran berdampak pada pengadaan buku untuk perpustakaan desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sebab bantuan buku bermutu dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dihentikan tahun ini.
Menyikapi kondisi itu, Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Pati mencari alternatif melalui gerakan donasi buku. Upaya itu membuahkan hasil dengan terkumpulnya sekitar 2.000 buku dari ASN dan masyarakat.
Buku-buku hasil donasi tersebut, selanjutnya disiapkan sebagai modal awal. Yakni membentuk dan mengembangkan embrio perpustakaan desa di berbagai wilayah Bumi Mina Tani.

Pengadaan koleksi melalui donasi buku menjadi salah satu upaya memastikan kebutuhan bahan bacaan masyarakat deaa. Sehingga tetap dapat dipenuhi di tengah terbatasnya dukungan dari pemerintah pusat.
Gerakan donasi buku dimulai pada 20 Juli 2026 hingga saat ini. Program tersebut untuk mendukung pendirian dan pengembangan perpustakaan desa.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Pati, Sukardi, mengatakan, koleksi judul buku yang diterima Dinarpus Pati telah mencapai sekitar 2.000 eksemplar.
“Alhamdulillah sudah terkumpul sekitar 2.000. Target kami secara perlahan untuk membentuk embrio perpustakaan desa,” ujar Sukardi.
Menurut Sukardi, jumlah buku tersebut masih menjadi langkah awal karena kebutuhan perpustakaan desa di Kabupaten Pati cukup besar. Dari total 406 desa dan kelurahan, baru sekitar 235 wilayah yang telah memiliki perpustakaan desa.
Kondisi itu membuat masih banyak desa membutuhkan dukungan untuk membangun maupun mengembangkan perpustakaan.
Selain ketersediaan ruang dan pengelolaan, keberadaan koleksi buku yang memadai menjadi salah satu faktor penting agar perpustakaan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Gerakan donasi buku diharapkan dapat membantu desa-desa yang belum memiliki perpustakaan. Selain itu, memperkuat koleksi perpustakaan yang sudah tersedia.
“Sementara tahun ini bantuan buku bermutu dari Perpusnas dihentikan karena ada efisiensi. Sehingga kita inisiatif untuk ada sinergi dari berbagai pihak dengan masyarakat donasi buku,” terang Sukardi.
Penghentian bantuan tersebut, membuat pengadaan koleksi perpustakaan tidak bisa hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat. Karena itu, gerakan donasi menjadi salah satu alternatif memenuhi kebutuhan buku.
Namun, Dinarpus Pati menilai keberadaan buku hasil donasi saja belum cukup. Perpustakaan desa membutuhkan dukungan anggaran yang berkelanjutan.
Untuk itu, Dinarpus mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Pati memberikan arahan kepada pemerintah desa mengenai pemanfaatan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendukung pembangunan dan pengembangan perpustakaan.
“Kita harapkan juga penekanan dari Pemkab melalui Dispermades untuk bisa memberikan arahan atau memasukkan ke dalam Perbup terkait dengan ADD ada anggaran yang bisa digunakan untuk mendukung dan membentuk perpustakaan desa,” pungkasnya.
Buku yang dapat didonasikan berupa buku nonpelajaran, dengan kondisi baik dan layak baca. Isi buku juga harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi dapat menyumbangkan minimal satu buku. Donasi tersebut diharapkan menjadi bentuk gotong royong masyarakat untuk memperkuat budaya literasi sekaligus memperluas akses bacaan bagi warga desa. (pra)






