Deretan kapal nelayan tradisional di Makassar menjadi saksi jejak hubungan maritim dengan masyarakat Aborigin Australia melalui perdagangan teripang. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Hubungan antara masyarakat Yolngu di Arnhem Land, Australia, dengan para nelayan teripang asal Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi bagian penting dari sejarah hubungan lintas kawasan yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Interaksi tersebut tidak hanya terjadi dalam bidang perdagangan, tetapi juga berkembang menjadi hubungan sosial, budaya, hingga kekeluargaan antara masyarakat Aborigin dan para pelaut dari Sulawesi.
Jejak hubungan tersebut terlihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Yolngu. Pertukaran bahasa, pengenalan sejumlah unsur biologis seperti pohon asam, serta pengaruh terhadap seni dan ritual menjadi bukti bahwa kontak dengan masyarakat Asia Tenggara memberikan dampak yang cukup mendalam.
Hubungan ini menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah utara Australia telah terhubung dengan dunia luar jauh sebelum terbentuknya pemerintahan Australia modern.
Namun, hubungan tersebut mengalami perubahan besar pada 1906 ketika pemerintah kolonial Australia melarang aktivitas perikanan teripang Makassar di wilayah utara Australia.
Kebijakan tersebut tidak hanya menghentikan aktivitas ekonomi, tetapi juga memutus hubungan keluarga, perdagangan, dan kedekatan budaya yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Alfred Searcy, seorang pejabat bea cukai pada masa itu, bahkan mencatat bahwa pelarangan tersebut menjadi pukulan besar bagi masyarakat pribumi.
Baca Juga: Kapolda Jateng Ultimatum Anggota Terlibat Bekingi Judi dan Narkoba: Jika Terbukti Dipecat
Menurut Ganter (2018), kebijakan tersebut berkaitan dengan persaingan ekonomi, ketegangan rasial, serta berkembangnya ideologi “Australia Putih”. Dampaknya, masyarakat Yolngu semakin terisolasi dari jaringan sosial dan ekonomi yang sebelumnya menghubungkan mereka dengan Asia Tenggara. Seiring berjalannya waktu, sejarah kontak tersebut bahkan sempat berubah menjadi cerita yang samar atau mitos bagi generasi muda.
Upaya untuk menghidupkan kembali hubungan tersebut mulai terlihat sejak peringatan dua abad Australia pada 1988. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyambungkan kembali hubungan antara masyarakat Yolngu dan masyarakat Sulawesi, di antaranya melalui pertukaran musik, kunjungan keluarga, serta proyek rekonstruksi kapal tradisional.
Upaya tersebut tidak hanya menghidupkan kembali memori kolektif, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat Aborigin yang selama ini kerap digambarkan sebagai masyarakat yang hidup terisolasi.
Meski demikian, hubungan Yolngu dan Makassar tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai hubungan yang harmonis. Sejumlah catatan menunjukkan adanya relasi yang kompleks dan dalam beberapa situasi bersifat eksploitatif.
Ingatan mengenai hubungan tersebut juga berbeda di wilayah lain seperti Kepulauan Tiwi dan Kimberley. Pengaruh misionaris Kristen serta pendekatan akademis pada masa awal turut membuat sejarah kontak dengan Asia Tenggara kurang mendapat perhatian.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan penting dalam historiografi Australia: mengapa hubungan pra-kolonial dengan Asia Tenggara cenderung diabaikan atau diremehkan hingga akhir abad ke-20? Fenomena tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kebijakan “Australia Putih” dan narasi mengenai Australia sebagai benua yang terisolasi, tetapi juga dipengaruhi oleh cara peneliti awal memahami sejarah Australia.
Baca Juga: Bus Persib U-18 Diserang, Ofisial Dianiaya dan Pelaku Disergap di Karawang
Terbatasnya perhatian terhadap sumber lisan masyarakat Aborigin dan kecenderungan menggunakan perspektif Eropa turut berperan dalam membentuk narasi sejarah yang kurang menampilkan hubungan Australia dengan Asia Tenggara.
Sejarah hubungan Yolngu dan Makassar pada akhirnya memberikan perspektif berbeda mengenai masa lalu Australia. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa Australia bukanlah ruang yang sepenuhnya terisolasi, melainkan bagian dari jaringan mobilitas, perdagangan, dan pertukaran budaya di kawasan Asia-Pasifik.
Bagi Ganter, sejarah ini sekaligus menjadi tantangan terhadap gagasan mengenai Australia yang terpisah dari Asia Tenggara maupun pandangan mengenai identitas dan budaya Aborigin sebagai sesuatu yang sepenuhnya murni dan tidak dipengaruhi hubungan lintas kawasan. (krp)
