Home » Sapi Pragolo Menggeliat di Panggung TMII, Generasi Muda Pati Menjaga Napas Tradisi
IMG-20260929-WA0005

Seniman muda Pati membawakan Sendratari Sapi Pragolo tampil di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. (kanalmuria)

Kanalmuria.com, Pati – Dari denting gamelan hingga gerak penari yang berpadu dalam panggung pertunjukan, kisah budaya Pati kembali menemukan ruang untuk bernapas.

 

Di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (27/9/2026), generasi muda Pati membawa Sendratari Sapi Pragolo. Pagelaran ini sebagai gambaran tentang bagaimana tradisi terus diwariskan di tengah derasnya perubahan zaman.

 

Panggung Gelar Seni Budaya 2026 itu bukan sekadar pertunjukan. Di balik tata gerak, irama karawitan dan ekspresi para penampil, terselip pesan tentang pentingnya menjaga akar budaya agar tidak tercerabut dari generasi ke generasi.

 

Panggung Gelar Seni Budaya 2026 terselip pesan penting menjaga akar budaya Pati agar tidak tercerabut dari generasi ke generasi. (kanalmuria)

 

Sejumlah pelajar SMP dari Pati tampil membawa ragam kesenian daerah. Dengan usia yang masih belia, mereka justru menunjukkan keberanian dan talenta yang menjanjikan ketika berhadapan dengan panggung pertunjukan di hadapan publik.

 

Penampilan tersebut mendapat apresiasi, karena menjadi gambaran bahwa seni tradisi masih memiliki tempat di kalangan generasi muda. Mereka tidak hanya belajar memainkan peran, tetapi juga mengenal proses panjang di balik sebuah pementasan:

 

“Dengan kesenian, anak-anak dapat bekerja sama, bahu membahu untuk menampilkan pertunjukan yang luar biasa,” ujar Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra.

 

Panggung Gelar Seni Budaya 2026 terselip pesan penting menjaga akar budaya Pati agar tidak tercerabut dari generasi ke generasi (kanalmuria)

 

Nilai itulah yang membuat kesenian memiliki arti lebih luas. Di tengah kehidupan modern yang semakin lekat dengan teknologi dan interaksi serba cepat, panggung seni menjadi ruang untuk kembali belajar tentang kebersamaan.

 

Sebuah pertunjukan tidak mungkin berdiri hanya dengan satu pemain. Ada penari, penabuh gamelan, pengrawit, penata panggung, hingga mereka yang bekerja di balik layar. Semua bergerak dalam irama yang sama untuk melahirkan satu sajian utuh.

 

Baca Juga: Dafid Alifianto Terpilih Pimpin PA GMNI Pati, Tegaskan Komitmen Berpihak kepada Rakyat Kecil

 

Melalui Gerakan Seni Masuk Sekolah (GSMS), ruang semacam itu terus dibuka bagi para pelajar. Sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi pintu bagi anak-anak mengenal warisan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.

 

Penguatan kesenian juga mendapat sokongan dari Sanggar Karawitan Seni Kabupaten Pati. Keberadaan sanggar menjadi salah satu mata rantai penting menjaga keberlanjutan seni tradisi, terutama ketika generasi muda membutuhkan ruang untuk belajar dan berekspresi.

 

Ruang pertunjukan di Pati juga diproyeksikan semakin hidup. Salah satu rencana yang disiapkan pada 2027 adalah menghidupkan kembali Alun-Alun Kembang Joyo. Kawasan ini sebagai salah satu ruang kegiatan seni, dengan dukungan panggung dan fasilitas pertunjukan yang lebih memadai.

 

Bagi para pelajar yang tampil di TMII, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Mereka bukan hanya membawa nama daerah, tetapi juga merasakan langsung bagaimana sebuah karya seni dipertontonkan dan diapresiasi di ruang publik yang lebih luas.

 

Pengalaman itu diharapkan menjadi pemantik untuk terus berlatih. Sebab, seni tradisi tidak cukup hanya dikenang melalui cerita masa lalu.

 

Baca Juga: Cemburu Diduga Jadi Pemicu, Pria Ditusuk di Rumah Kos Jepat Lor Tayu

 

Seni tradisi embutuhkan tubuh-tubuh muda yang bersedia mempelajarinya, panggung untuk menampilkannya. Selain itu, masyarakat yang mau memberi ruang bagi perkembangannya.

 

Gelar Seni Budaya 2026 juga mempertemukan para pelajar, Sanggar Karawitan Seni Kabupaten Pati, perwakilan paguyuban masyarakat Jawa Tengah di Jakarta, serta masyarakat dan undangan.

 

Pertemuan tersebut memperluas ruang silaturahmi kebudayaan. Para perantau asal Pati dan masyarakat Jawa Tengah di Jakarta, turut menjadi bagian dari mata rantai yang menjaga hubungan dengan daerah asal melalui seni dan tradisi.

 

Pada akhirnya, panggung di TMII bukan hanya tentang siapa yang tampil dan apa yang dipentaskan. Lebih jauh, ia menjadi pengingat bahwa kebudayaan tetap hidup selama ada generasi yang mau belajar, berkarya, dan meneruskan irama yang telah dimainkan para pendahulunya.

 

Di antara gemuruh tepuk tangan dan suara gamelan yang mengalun, Sapi Pragolo pun kembali bercerita. Cerita lama yang menemukan penonton baru—anak-anak muda yang perlahan mengambil peran untuk menjaga agar seni Pati tetap memiliki panggungnya. (pra)