Pengalaman mantan narapidana terorisme Ustaz Abu Tholut dibawa ke hadapan puluhan pelajar dan mahasiswa di Kudus. (kanalmuria)
Kanalmuria.com, Kudus — Pengalaman mantan narapidana terorisme (napiter) Ustaz Imam Baihaqi alias Abu Tholut, dibawa ke hadapan puluhan pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Kudus.
Kisahnya tentang proses masuk hingga perekrutan paham radikal, diharapkan menjadi pembelajaran agar generasi muda lebih waspada terhadap ancaman radikalisme, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.
Pemkab Kudus menghadirkan Abu Tholut sebagai narasumber dalam kegiatan optimalisasi peran masyarakat untuk deteksi dini. Selain itu, antisipasi gangguan keamanan terhadap kelompok radikal.
Kegiatan berlangsung di Pendapa Kabupaten Kudus dengan diikuti sekitar 80 pelajar dan mahasiswa.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pelajar Sebagai Garda Terdepan Ideologi, Mengoptimalkan Deteksi Dini dan Antisipasi Gangguan Radikalisme untuk Menjaga Keutuhan NKRI.”
Kehadiran Abu Tholut menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi kepada generasi muda melalui pengalaman langsung.
Pengalaman yang pernah dilaluinya, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana seseorang dapat terpapar paham radikal, termasuk pola dan jalur perekrutan yang digunakan.
Bupati Kudus Samani Intakhoris mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah bersama berbagai elemen masyarakat memperkuat edukasi dan pencegahan radikalisme.
Menurut Samani, kemampuan menyaring informasi menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat arus informasi dan komunikasi berlangsung sangat cepat.
“Di era digital ini perkembangannya sangat masif. Saya pesan agar bijak menggunakan media sosial, jangan saling adu argumen dan fitnah,” katanya.
Baca Juga: Pilketos Serentak 2026: 91 Sekolah di Kudus Belajar Demokrasi Sejak Dini
Ia menilai penggunaan media sosial secara tidak bijak, dapat memicu persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, pelajar dan mahasiswa diminta membangun budaya komunikasi yang sehat serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus, Andrias Adi Wahyu Setiawan mengatakan, pengalaman Abu Tholut diharapkan menjadi pembelajaran langsung bagi para peserta.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat memberikan gambaran mengenai proses perekrutan dan jalur yang digunakan dalam penyebaran paham radikal.
“Karena pengalaman sendiri, nglakoni sendiri, jadi bisa tahu caranya didudoi, trik-triknya masuk lewat jalur apa saat ini,” kata Andrias.
Andrias mengatakan pelajar dan mahasiswa Kudus dilibatkan, karena memiliki peran penting dalam memperkuat deteksi dini di lingkungan masing-masing.
Mereka juga diharapkan dapat menyebarkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kepada teman, keluarga, dan masyarakat sekitar.
Ia menyebut situasi keamanan di Kabupaten Kudus hingga kini relatif kondusif. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi munculnya paham yang mengarah pada radikalisme destruktif.
Upaya pemantauan dan deteksi dini dilakukan melalui koordinasi dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta unsur intelijen dari berbagai instansi..
Baca Juga: 340 Siswa SMKN 2 Pati Belajar AI, Bukan untuk Malas Berpikir tapi Makin Cerdas
Menurut Andrias, penguatan ideologi Pancasila juga menjadi salah satu langkah penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah terpengaruh oleh paham radikal.
Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, kata dia, perlu terus ditanamkan sejak lingkungan keluarga dan sekolah.
“Sehingga tidak mudah terbawa paham-paham yang ke arah radikalisme. Dan juga tidak hanya berhenti di situ, tidak hanya kepada pelajarnya, nanti bisa menularkan kepada temannya, ke masyarakat, keluarga, dan tetangga sekitar tentunya,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, pelajar dan mahasiswa memahami potensi bahaya radikalisme dan mengenali tanda-tanda gangguan keamanan sejak dini.
Deteksi dilakukan dengan cara yang tepat melalui koordinasi dengan pihak berwenang, bukan dengan tindakan main hakim sendiri. (pra)

1 thought on “Abu Tholut Eks Napiter Doktrin Pelajar Kudus, Waspadai Jerat Radikalisme di Era Digital”
Comments are closed.