Screenshot

Screenshot

PATI – Gelombang perlawanan peternak lokal mulai memanas. Forum Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) secara resmi melayangkan surat pemberitahuan aksi unjuk rasa ke Polres Pati. Surat tersebut menjadi sinyal keras bahwa ketegangan antara peternak mandiri dan perusahaan pembibitan ayam kian memuncak, dengan sasaran utama perusahaan raksasa perunggasan, Japfa.

Aksi yang dijadwalkan berlangsung di depan pintu masuk perusahaan pembibitan ayam di wilayah Puncakwangi, Kabupaten Pati, bukan sekadar simbolik. Para peternak membawa sederet tuntutan tajam yang menuding adanya ketidakadilan distribusi bibit ayam (DOC) yang selama ini dinilai hanya menguntungkan lingkaran internal perusahaan dan kroni bisnis tertentu.

Dalam surat resmi bernomor 001/Eksternal/PPMP/II/2026 tertanggal 18 Februari 2026, PPMP menegaskan aksi ini merupakan bentuk protes atas “ketidakadilan distribusi DOC yang diproduksi di wilayah Puncakwangi”. Mereka menyebut praktik distribusi eksklusif telah membuat peternak mandiri lokal tersisih dari akses bibit, sehingga sulit bersaing dan bertahan dalam usaha ternak ayam ras.

Tidak tanggung-tanggung, PPMP mengajukan sejumlah tuntutan utama yang menjadi inti demonstrasi. Pertama, mereka mendesak pemerataan kuota pembelian DOC agar peternak mandiri lokal di wilayah Pantura memperoleh porsi yang layak. Kedua, mereka mengecam keras dugaan praktik distribusi eksklusif yang dinilai hanya menyasar jaringan internal perusahaan, sehingga menciptakan ketimpangan usaha. Ketiga, mereka menuntut perusahaan memprioritaskan peternak lokal sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan ekonomi wilayah, bukan sekadar objek pasar yang diabaikan.

Tak hanya itu, peternak juga meminta pimpinan perusahaan turun langsung menemui perwakilan massa aksi untuk berdiskusi terkait seluruh tuntutan. Langkah ini menunjukkan bahwa aksi tidak hanya bernada protes, tetapi juga menekan adanya dialog terbuka dan pertanggungjawaban korporasi.

Dalam surat tersebut, PPMP bahkan menguatkan tuntutannya dengan sejumlah landasan hukum. Mereka menyinggung regulasi tentang penyediaan dan peredaran ayam ras yang menekankan perlindungan peternak rakyat, aturan larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, hingga ketentuan distribusi DOC untuk peternak mandiri. Artinya, demonstrasi ini tidak sekadar emosional, tetapi dibingkai sebagai perjuangan hak ekonomi peternak lokal yang merasa dipinggirkan oleh sistem distribusi perusahaan besar.

Dengan estimasi massa sekitar 50 orang dan perlengkapan aksi berupa mobil komando, spanduk, serta poster, unjuk rasa ini dipastikan berlangsung terbuka dan terorganisir. PPMP juga menyatakan komitmen menjaga ketertiban selama aksi, namun substansi tuntutan yang disuarakan jelas bernada keras: hentikan ketidakadilan distribusi DOC atau hadapi gelombang perlawanan peternak mandiri Pantura.

Situasi ini menjadi ujian serius bagi perusahaan pembibitan ayam berskala nasional. Jika tuntutan tersebut tak direspons, bukan tidak mungkin aksi serupa akan meluas dan memicu tekanan lebih besar dari peternak mandiri yang merasa selama ini hanya menjadi penonton di kandang sendiri.

/Tim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *