
Pati – Ketersediaan minyak goreng bersubsidi Minyakita di Kabupaten Pati dilaporkan semakin terbatas. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan memperoleh produk tersebut di warung maupun toko kelontong, padahal Minyakita menjadi salah satu kebutuhan pokok harian warga.
Di sejumlah titik penjualan, stok Minyakita disebut cepat habis begitu barang datang. Banyak konsumen harus berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk mencarinya, sementara sebagian memilih membeli meski harganya tidak lagi sesuai ketentuan pemerintah.
Kelangkaan ini diduga berkaitan dengan distribusi yang belum berjalan optimal. Pasokan yang masuk ke pedagang dinilai tidak sebanding dengan tingginya permintaan masyarakat, sehingga ketersediaan di tingkat pengecer menjadi tidak stabil.
Dampak langsung dari kondisi tersebut terlihat pada harga jual di pasaran. Minyakita yang seharusnya dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) justru banyak dilepas dengan harga lebih tinggi, mencapai kisaran Rp18.000 hingga Rp18.500 per liter.
Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli dengan harga tersebut karena tidak memiliki alternatif lain. Mereka menilai situasi ini cukup memberatkan, terutama bagi keluarga dengan kebutuhan konsumsi minyak goreng yang tinggi setiap harinya.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk menormalkan distribusi Minyakita. Dengan pasokan yang kembali lancar dan pengawasan harga yang ketat, kebutuhan minyak goreng bersubsidi di Pati diharapkan dapat terpenuhi secara merata. (TIM)






