Ribuan lalat tertangkap dalam jebakan lem yang dipasang di sekolah. (Arief Pramono)
Kanalmuria.com, Kudus – Jam makan seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi para siswa. Namun, suasana berbeda justru terjadi di SD Negeri 3 Bulungcangkring, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Saat makanan bergizi gratis (MBG) tersaji, para siswa bukan hanya sibuk menyantap makanan. Mereka juga harus mengusir lalat yang beterbangan dan mengerubungi area makan.
Serbuan ribuan lalat itu membuat aktivitas belajar hingga waktu makan para siswa terganggu. Bahkan, kondisi tersebut sempat terekam dalam video amatir yang memperlihatkan para pelajar menyantap MBG di tengah kepungan lalat.

Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat berusaha menghalau lalat agar tidak hinggap di tubuh maupun makanan mereka. Pemandangan itu menjadi gambaran betapa gangguan lalat telah masuk hingga ke lingkungan sekolah.
Yang membuat kondisi semakin memprihatinkan, lalat-lalat tersebut diduga berasal dari sejumlah kandang ayam yang berada tidak jauh dari sekolah.
SD Negeri 3 Bulungcangkring sendiri berjarak sekitar 200 meter dari kandang ayam. Pihak sekolah mengaku persoalan lalat sebenarnya bukan hal baru. Namun, sejak September, jumlah lalat disebut meningkat dan mulai mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Gangguan itu tidak hanya terjadi di ruang kelas. Lalat juga masuk ke ruang guru, hingga mengusik siswa ketika mereka sedang menyantap MBG.
Tony, salah seorang guru SDN 3 Bulungcangkring, mengatakan pihak sekolah telah berupaya mengurangi gangguan tersebut dengan memasang lem lalat.
Namun, langkah itu belum mampu mengatasi serbuan lalat yang jumlahnya terus meningkat.
“Lalat tidak hanya mengganggu siswa saat belajar, tetapi juga menyerbu ruang guru. Termasuk saat para siswa menyantap Makan Bergizi Gratis,” ujar Tony.
Tony menegaskan, keberadaan lalat tersebut bukan disebabkan oleh makanan MBG. Menurutnya, persoalan justru berasal dari banyaknya lalat yang berada di lingkungan sekitar sekolah.
Akibatnya, aktivitas makan yang semestinya menjadi bagian penting dalam pemenuhan gizi siswa justru berlangsung dalam suasana yang tidak nyaman.
Kondisi tersebut kini mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus. Wakil Bupati Kudus Belinda Putri Sabrina Birton mengusulkan adanya penambahan fasilitas pengendalian lalat di sekolah yang terdampak.
Salah satunya dengan memasang neon box atau perangkap lalat yang lazim digunakan di area dapur.
Langkah itu dinilai penting untuk memberikan perlindungan tambahan kepada siswa, terutama ketika makanan MBG telah siap disantap.
Belinda menyebut makanan MBG telah diproses secara higienis. Namun, setelah makanan sampai di sekolah dan siap dikonsumsi, lingkungan tempat makan juga perlu dipastikan terlindung dari gangguan lalat.
Pemkab Kudus juga menyiapkan Tim Bina Lingkungan untuk mengawasi kondisi di sekitar kandang ayam.
Tim tersebut akan melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta pemilik kandang. Pengawasan dilakukan bersama pihak kecamatan dan dinas terkait.
Jika pengelola kandang tidak mematuhi ketentuan dan upaya pengendalian tidak berjalan, Pemkab Kudus membuka kemungkinan mengambil langkah lebih tegas.
Bagi pihak sekolah, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan perangkap lalat atau penanganan sementara.
Yang dibutuhkan adalah solusi yang mampu memutus gangguan tersebut dari sumbernya. Dengan begitu, siswa dapat kembali belajar dengan tenang dan menikmati makanan bergizi tanpa harus berbagi tempat dengan kepungan lalat.
Baca Juga: Air Bersih Kian Langka di Pati, Dana Darurat Rp 250 Juta Masih Terkunci
Kini, sekolah menunggu langkah Tim Bina Lingkungan untuk menekan populasi lalat di sekitar lingkungan sekolah.
Harapannya sederhana. Tidak ada lagi siswa yang harus menghabiskan waktu makan sambil sibuk mengibaskan lalat.
Sebab, di tengah kewajiban memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah, kenyamanan dan keamanan saat mereka belajar serta menyantap makanan juga menjadi bagian yang tak kalah penting. (pra)

1 thought on “Santap MBG Dikepung Ribuan Lalat, Siswa SD di Kudus Sibuk Menghalau Serbuan Serangga”
Comments are closed.