
PATI – Asap tebal dari aktivitas pengolahan arang batok kelapa (20/02) di Jalan Lingkar Selatan Pati, tepatnya di wilayah Kebun, Desa Ngawen, Kecamatan Margorejo, bukan lagi sekadar gangguan—melainkan ancaman nyata bagi keselamatan publik. Kepulan asap putih keabu-abuan dilaporkan berulang kali menutup badan jalan, menurunkan visibilitas secara drastis, dan berpotensi memicu kecelakaan kapan saja.
Keluhan pengguna jalan kian keras. Asap tidak hanya menyesakkan napas, tetapi juga membentuk “tirai kabut” yang bisa menelan pandangan pengendara dalam hitungan detik. Dalam kondisi lalu lintas padat, situasi ini jelas bukan kelalaian kecil, melainkan bahaya terbuka yang seolah dibiarkan terus berlangsung.
“Pemandangan sangat membahayakan. Asap sampai menutup jalan. Ini bukan gangguan biasa, ini ancaman keselamatan,” tegas Supri, pengendara yang melintas.
Pantauan di lokasi menunjukkan kepulan asap pekat menyerupai kabut tebal yang menggantung rendah di atas jalan. Bau menyengat menyelimuti area sekitar, menandakan pembakaran skala besar tanpa pengendalian emisi yang layak. Warga menegaskan, kondisi ini bukan insiden sesaat, melainkan praktik berulang yang terkesan dibiarkan tanpa penindakan tegas.
Dugaan kuat mengarah pada proses pembakaran batok kelapa dalam jumlah masif yang dilakukan terlalu dekat dengan jalur utama. Jika benar, maka muncul pertanyaan serius: di mana pengawasan lingkungan, di mana standar operasional keselamatan, dan di mana batas tegas antara usaha dan keselamatan publik?
Lebih ironis lagi, lokasi produksi berada di jalur strategis dengan arus kendaraan tinggi setiap hari. Artinya, polusi asap bukan hanya mencemari udara, tetapi langsung mempertaruhkan nyawa pengguna jalan. Aktivitas industri rumahan yang menghasilkan polusi ekstrem di tepi jalan utama seharusnya tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa kontrol.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, menyatakan akan menindaklanjuti aduan masyarakat. Namun publik kini menuntut lebih dari sekadar respons normatif. Peninjauan tanpa tindakan tegas hanya akan memperpanjang potensi bencana di jalan raya.
Warga mendesak evaluasi total, termasuk kemungkinan relokasi atau penghentian sementara aktivitas pembakaran jika terbukti membahayakan. “Jangan tunggu korban jatuh dulu baru bertindak,” tegas seorang warga.
Jika situasi ini terus dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas udara, tetapi keselamatan nyawa setiap orang yang melintas. Negara tidak boleh kalah oleh asap, dan keselamatan publik tidak boleh dikorbankan demi pembiaran.
/Red.







