Home » Akses Bibit Ayam Tak Merata, Usaha Peternak Lokal Terancam
2b87d56c-c73e-4f9b-948b-09c5e273702b

PATI – Para peternak ayam mandiri di Kabupaten Pati kembali menyuarakan keresahan terkait distribusi Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam yang dianggap belum berpihak pada mereka. Ketidakmerataan pasokan tersebut membuat peternak yang tergabung dalam Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) berencana melakukan aksi sebagai bentuk protes atas kondisi yang tak kunjung berubah.

Salah satu peternak mandiri, Barry, mengungkapkan bahwa peternak lokal saat ini berada pada posisi paling lemah dalam memperoleh akses DOC. Ia menilai pembagian kuota lebih banyak mengalir ke jaringan internal maupun relasi bisnis tertentu, sementara peternak kecil harus berebut sisa jatah dengan harga yang lebih tinggi serta ketentuan yang tidak seimbang.

Menurutnya, situasi tersebut memaksa banyak peternak menunda masa produksi atau membeli bibit dengan biaya yang jauh lebih mahal. Dampaknya terasa langsung pada penurunan pendapatan dan mengancam kelangsungan usaha peternakan mandiri yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat desa.

Kekecewaan semakin memuncak karena persoalan distribusi DOC sejatinya sudah pernah dimediasi pada November 2025 lalu. Saat itu, peternak lokal sempat melakukan audiensi dengan kepala daerah di Pati dan menghadirkan pihak integrator besar. Dalam forum tersebut, integrator besar disebut berjanji akan memenuhi kebutuhan DOC bagi peternak mandiri secara adil.

Namun, Barry menilai realisasi di lapangan tidak sesuai dengan komitmen yang disampaikan. Distribusi yang dijanjikan belum mendekati proporsi yang seharusnya, sehingga kesepakatan tersebut dianggap hanya sebatas formalitas tanpa penerapan nyata.

Kondisi itulah yang mendorong rencana aksi pada Senin (23/2) di depan pintu masuk perusahaan pembibitan ayam milik integrator besar di Kecamatan Pucakwangi. Ratusan peternak disebut akan turun untuk menyampaikan kekecewaan atas dominasi korporasi besar dalam penguasaan distribusi bibit ayam.

PPMP menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan bentuk jeritan atas ketimpangan yang terus berulang. Mereka merasa selama ini hanya diposisikan sebagai pelengkap dalam industri perunggasan, bukan sebagai mitra setara yang mendapat perlindungan dan dukungan yang layak.

“Ketika akses DOC tidak merata, peternak mandiri berada dalam tekanan. Mereka bergantung pada pasokan dari integrator besar, tetapi tidak memiliki kekuatan tawar untuk memastikan distribusi yang adil,” ujarnya dengan nada kecewa.

/Tim.